Showing posts with label syair pak hamdi. Show all posts

Syair Pendek Jelang Tengah Malam

Wednesday, February 2, 2011
Posted by Marchsada


                (Madah seorang Penyair Soliter)

             Oleh
             Hamdi Akhsan.


I
Kekasih...
Dengarlah ratapan seorang hamba.
Yang tangannya mengigil tuliskan kebesaran-Mu sepenuh cinta,
Yang menangis takut pada azab-Mu karena kesesatan dalam menulis madah,
Sebagaimana peringatan-Mu dalam kitab suci disampaikan sudah.

Dalam sepinya kidung para pencinta-Mu.
Betapa banyak syair puja terhadap keindahan makhluk-Mu,
Segenap curahan hati terhadap keelokan lekuk tubuh dan bahasa berselimut nafsu,
Kekasih,...hamba takut, namun hati ini rindu.

II
Teringat hamba peringatan-Mu tentang para penyair,
yang lantunkan kata indah menawan hati manusia bagaikan sihir,
dengan madah yang mempesona bagaikan tenangnya air yang mengalir.
Dan membuat hati yang dilanda asmara bergetar karena eloknya kalimat diukir.

Tertegun hamba dengan ancaman-Mu terhadap mereka yang pergi ke lembah-lembah,
Berteriak dengan madah indah membuat insan cucurkan airmata,
sedang diri sendiri mencari tepuk tangan dan rasa bangga,
Kekasih hamba ingin tapi harus bagaimana?

III
Betapa indah berteman sepi,
Dalam senyap, desiran angin bertasbih diiringi lembutnya tetesan embun pagi,
dan irama takbir terdengar dalam kicauan burung yang bernyanyi,
Kekasih, inikah wujud kidung-Mu nan suci.
Dan hamba pun sendiri.

Betapa ingin hamba berlari mencari kesejatian diri,
bagaikan Qais yang patah mengenang Laila ditengah gurun-gurun sunyi,
Yang ratapannya jinakkan keganasan singa dengan kebuasan sejati,
dan akhirnya cinta pun membakar dirinya sendiri.
Kekasih, sedihnya hati ini.

Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Kekasih...
Sungguh sunyi,malam saat manusia trlelap tidur,
tidur dalam buaian2 syaitan yg kufur,
sungguh hamba-Mu ingin bangun larut dalam tafakkur,
...semoga Engkau selamatkan hamba dari siksa kubur.

Begitu segar angin pagi,
bagaikan segarnya nafas-Mu yg masuk dalam makhluk dbumi,
dgn kemajuan zaman mereka telah lupa diri,
hanya Engkaulah Sang Maha Pemberi,
hamba takut...,hamba menyesali... 



                Oleh
                Hamdi Akhsan

Rakyat kera sedang membaca petisi

PENGANTAR
Konon di abad ke 23 kelak (Wallahualam), hewanpun akan secerdas manusia. Tapi karena mereka baru merdeka, para pemimpin negeri kera yang berasal dari kera duafa sangat rakus. Mereka sibuk memenuhi pundi-pundi diri, keluarga dan kroninya.
Berikut surat seekor kera terhadap rajanya. Moga bermanfaat.

I
Aku datang padamu bawa seribu berita.
Tentang keluhan mereka yang menderita.
Tentang Mereka yang hidupnya dinista,
dan tentang mereka yang terlunta-lunta.

Aku datang padamu  mengambarkan aparat yang dusta,
aku  akan sampaikan tentang  protes  rakyatmu berjuta,
aku akan datang padamu  bawa protes hutan yang rata,
dan akupun akan menjumpaimu dengan doa dan airmata.

Aku berharap dihatimu masih ada secuil rasa cinta,
aku berdoa semoga nuranimu tidak dibutakan harta.
Aku berharap pembisikmu jangan dipercaya serta merta,
Supaya diakherat engkau tidak merangkak bagai hewan melata.

II
Baginda....
Kini jalan-jalan dinegeri kami berlubang dan penuh luka.
Tambal sulam yang dibuat tidak bagus dan sesuka-suka.
Sebahagian besar uangnya pergi ke kantong mereka,
sedang ban dan mesin kendaraan kami rengkah-rengkah.

Gedung-gedung yang dibuat sangat mahal hancur oleh gempa,
Irigasi yang dibuat dengan hutang luar negeri tersapu oleh bah.
Peralatan yang dibeli dengan pajak rakyat menumpuk ditempat sampah.
Sedangkan engkau sibuk kesana kemari umbarkan sukses menepuk dada.

III
Tahukah engkau...
Hutan hujan rimbun pemberian Tuhan kini semua telah habis,
tidak ada lagi sarang binatang melata  dan burung  seperti belibis.
Hujan yang datang membuat sungai-sungai  meluap dan bukitpun terbis.
Dan sawah dan ladangpun hancur, sedang yang tersisa pada petani hanyalah tangis.

Itukah balasanmu terhadap trilyunan pajak kendaraan yang kami bayarkan?
Pupuk yang mahal harus  kami beli atas  pupuk alami yang kami tinggalkan?
Sedangkan bagi rakyat pemimpin hendaknya bukan menjadi beban,
tetapi membawa mereka pada kesejahteraan.

IV
Baginda....
Mengapa engkau biarkan para tenaga kera wanita teraniaya,
padahal mereka pergi karena engkau tak becus buat lapangan kerja.
Karena mental yang terbentuk bukan pelayan namun menganggap diri raja.
Milyaran dollar uang yang mereka kirimkan hanya kau anggap remeh dan kecil saja.

Masihkan engkau menganggap dirimu berhasil,
sedangkan penderitaan dan air mata terus mengalir ditengah orang kecil.
Untuk bayar hutang pupuk pun petani harus mencicil,
dan terhadap keberhasilan rakyat berwiraswasta, aparatmu dibawah selalu usil.

V
Baginda....
Mengapa tiada secuilpun rasa takut pada Tuhan bersemayam didada,
Tidak gemetar dengan peringatan tentang lautan api neraka yang menggelora,
tak takut daging dan tulang akan tercerai berai dihantam malaikat dengan gada.
Sungguh engkau telah begitu takabbur dan tergoda.

Baginda....
cepatlah sadar sebelum Tuhan murka,
dan sang maut mencabut nyawa para pendurhaka.

Inderalaya, 26/1/2011
Al Faqiir

Hamdi Akhsan.



                   Oleh
                   Hamdi Akhsan


Kekasih...
Malam merayap semakin larut,
Seruling malam berkilau indah bagaikan mutiara jabarrut.
Para pencinta telah bersiap bagai kekasih yang datang untuk menjemput,
rindu pada-Mu, dan tak pernah menggigil takut tatkala datang  sang malaikat maut.

Terkadang hamba menangis pilu,
mengingat iman yang demikian lemah bagai pelita buram di malam dalu,
atau bagai getaran angin yang bergesek di rimbunnya daun bambu,
kekasih, hamba takut! tetapi hamba rindu.

II
Ingin kupergi ke puncak gunung-gunung sunyi,
atau berlari ditengah gurun untuk mencari kesucian diri,
ataupun pergi arungi ganasnya samudera yang tiada betepi,
Namun, yang ada hanya tangis beriring sepi,
kekasih, kemana hamba harus berlari?

Kini tiada tempat di bumi yang indah untuk para pencinta,
gelegar teknologi telah mengharubirukan generasi pengganti di semua wilayah.
Tiada lagi tangis malam tersedu dari seorang hamba,
Kekasih, hamba pasrah.

III
Kemana lagi hamba harus berlari bagaikan Qais mencari Laila,
apakah ke padang-padang sunyi yang tiada mampu dijangkau kotornya tangan manusia?
Ataukah Engkau ada ditengah keramaian tempat manusia tertawa gembira ria?
Kekasih,...kemana hidup ini akan kubawa.

Di perjalanan malam  lewati gurun pasir nan gelap,
menetes airmata rinduku sambil jiwa lantunkan harap,
agar  kiranya di akherat kelak Engkau kan sudi menatap,
dengan segenap kasih dan sayang-Mu yang penuh rahmat,

IV
Kekasih...
Mata rabunku mulai lelehkan kerinduan yang makin redup,
dimakan kejamnya dunia demi sebuah tuntutan hidup,
Berilah hamba kekuatan untuk tetap menghirup,
Kasih-Mu yang segalanya terlingkup.
Kekasih...tanpa-Mu hamba tak sanggup.

Inderalaya, 25/1/2011)
Al Faqiir

Hamdi Akhsan

 
Malam perlahan semakin meninggi
Dalam aroma kebesaran MU Ya ILLAHI
Hamba MU yang lemah tiada daya ini
Menatap jauh merindu kan MU kekasih

...Di kesunyian malam yang semakin larut ini
Bintang gumintang dan rembulan ikut menghiasi
Hanya ENGKAU yang mampu melukis semesta ini
Sebagai karunia terindah bagi penghuni bumi
 
Rasanya amat sebentar malam berlalu
Susahnya mata ini menatap ayat suci
Terlena tidur hingga lupa tahjud pd-Mu
Resah nya tinggal dikubur nanti.

...Wahai yang Maha Pengasih
Kasihanilah hamba yg banyak dosa ini
Tiap sebentar merintih
Mengenang kan diri yg sepi di kubur nanti
 
sang malam kini kau segera pergi
kau bukan datang sendiri
kau juga makhluk seperti kami
kau diutus oleh Ilahi untuk kami

...di saat kau datang dan menjelang pergi
sangat baik bagi kami untuk merenung diri
siapa sesusngguhnya diri ini sejak dulu lagi
bagaimana pula nasib diri ini di akhirat nanti

ya Allah ya rabbi ampuni hamba ini
mudahkan semua urusan hamba
sungguh yak ada kekuatan diri ini
tanpa Kau berim ya rabbi



               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Kekasih...
Kini tulang-tulangku mulai renta dimakan kejamnya waktu,
sedang masa telah pergi bersama rindunya para pencinta,
bak segelas anggur merah direguk para  pemabuk malam,
Hangat tatkala  datang dan tiada di pandang ketika pergi.
Sedang yang  tertinggal  hanya piala hampa yang kosong.

Betapa kosongnya ruhani peradaban yang berpusat materi  telah sekarat.
Tangisan bayi yang lahir ke bumi tidak lagi dipandang sebagai rahmat,
tapi beban ekonomi  yang dihitung  dengan  begitu  cermat.
Seolah ia hanya mekanisme biologi tanpa kaitan akherat.
Seolah di mata insan, Engkau pun tidak dilihat.

II
Kekasih...
Dalam keangkuhan peradaban yang miskin ruhani.
Kepala manusia tegak seolah semuanya datang sendiri,
setiap sel tubuh,setiap detak jantung, bukan pemberian Ilahi,
tapi merupakan mekanisme rumit yang telah demikian terorganisasi.

Ayat-ayat-Mu yang berisi larangan dan perintah kini semakin tak diindahkan.
Bahkan menjadi komoditas yang demikian mudah diperjual belikan.
Menyampaikan kebenaran harus dicampur dagelan,demi iklan.
Dan mereka yang bersungguh-sungguh terpinggirkan.

III
Adakah cinta...
Cinta hanyalah perwujudan nafsu yang dibungkus malu-malu atas nama kebebasan.
Cinta yang bagai kera di tengah hutan demikian bebas memilih dan ganti pasangan.
Cinta yang dimasa tua akan lahirkan segenap kesedihan,kepedihan dan penderitaan.
Cinta yang telah membuat manusia  bertransaksi demi kenkmatan dan kesenangan.

Kekasih...
Bara api cinta para pencinta-Mu telah menjadi barang aneh.
Kekuatan ruhaniah yang Engkau beri sudah banyak dipadang remeh.
Pria yang menjadi idola bukan lagi mereka yang memancarkan cahaya sholeh,
Tetapi mereka yang membawa tumpukan harta dan membebaskan wanita serba boleh.

IV
Kini...
Indahnya kidung dimalam sunyi berganti dengan gelegar musik yang membuai,
lembutnya sajadah berganti dengan lembutnya tangan yang membelai.
Membuat hidup manusia semakin larut dan lalai,

Dalam tatapan tajam sang maut yang selalu mengintai dimalam hari,
sebahagian pencinta meratap sesali pelanggaran perintah suci.
Sebahagian tetap terpesona indahnya buaian duniawi,
sampai kelak tiada waktu tuk tunda lagi,
barulah semua kan disesali.

Inderalaya,25/1/2011
Al Faqiir

Hamdi Akhsan
Sahabat ku.....
Kini semakin nyata mana yang bathil mana yang haq
Kebanyakan manusia mendewakan harta kekayaan
Ketampanan dan kecantikan menjadi ukuran keberhasilan
Sementara Agama dianggap penghalang tuk kemajuan
...
Sahabat ku....
Tempat hiburan malam penuh sesak pelampiasan kepenatan
Minuman ber-alkohol menjadi trademark pola kehidupan
Sementara sex bebas tidak lagi menjadi pantangan
Ini lah kehidupan modern yang mereka teriakkan

Sahabat ku...
Dunia ini semakin uzur usia nya
Semakin banyak pula macam tingkah penghuni nya
Semua itu cerminan pri kehidupan di sekeliling kita
Yang baik dan yang buruk nampak jelas berbeda

Sahabat ku...
Bukan beta ahli berdakwah ini hanya mengingatkan saja \
Semua mahluk yang hidup akan mati bila tiba waktunya
Oleh sebab itu tak salah kalau hamba bersyair nada
Mohan ampunan kepada Yang Kuasa kalau ada yang salah
 
Apakah semua itu adalah tanda,
hilangnya iman dalamnya dada,
yg terbelenggu gemerlapnya harta,
semangatpun demi nafsu dunia.

...Pedih dan sakit hati ini,
menatap dunia yg dah brmanuawi,
sang ibu tak senang lahirnya bayi,
dbuang memberatkn beban ekonomi.



               Oleh
               Hamdi Akhsan


I
Kekasih...
Lazuardi nan biru semburat di kaki langit padang Arafah panas berdebu.
Jutaan bibir hamba-Mu bergetar ungkapkan untaian ratap rindu,
rindu rasa, rindu jiwa, hanya pada-Mu jua tempat mengadu.
Sungguh begitu sendu tatkala dada bergemuruh tersedu.

Terbayang kelak manusia berkumpul di Padang Mahsyar,
Jasad-jasad yang berlimang dosa panjatkan munajat gemetar.
Menjadi ibarat kelak semua menghadap-Mu dibalut kain dua lembar,
dan meninggalkan timbunan emas permata beserta uang bemilyar-milyar.

II
Kekasih...
Di Padang ini, hampir semua hamba-Mu berurai airmata.
Curahkan segenap permohonan ampun atas dalamnya dosa.
Bermohon dengan menyebut asma agung-Mu Yang Maha Kuasa,
dan meminta kemurahan-Mu agar dilepaskan dari sakit dan pedihnya siksa.

Sedang di cakrawala nan biru Jutaan malaikat-Mu menjadi saksi,
Kerinduan jutaan hamba-Mu yang datang  dari berbagai negeri.
Ada yang berkendaraan bagus dan tidak sedikit yang jalan kaki.
Sungguh wujud sebuah kebaktian yang tinggi pada Ilahi Robbi.

III
Sungguh indah, tatkala pangkat tinggi dan kemuliaan duniawi ditanggalkan.
Dua lembar pakaian ihram tak berjahit bagai pasangan kain kafan.
Begitulah kelak di Mahkamah-Mu wajah kami kan dihadapkan.
Menekur bagaikan lunglainya tubuh seorang pesakitan.
Kekasih, hamba tersedan.

IV
Betapa hamba sangat takut,
Layar waktu seakan membuat semua masa lalu tertaut.
Bagaikan tayangan lengkap peristiwa yang berkala dan runtut.
Perjalanan diri sebagai hamba yang baligh sampai maut datang menjemput.

Kekasih...
Sungguh Arafah membekas dalam bagai pancaran pemata,
terukir demikian kuat didalam relung jiwa,
Dan semua menjadi kekuatan indah,
sampai hamba menutup mata.


Inderalaya, 27/1/2011
Al Faqiir

Hamdi Akhsan

SYAIR POLIGAMI

Posted by Marchsada



Oleh
Hamdi Akhsan
Pria Pemberani berpoligami
I
Inilah madah seorang insan,
tentang perkara sepanjang zaman,
kalau dibahas bikin tak nyaman,
menjadi olokan sesama teman.

Poligami terkenal nama sebutan,
ada sembunyi ada yang pamitan,
menjadi sumber godaan syaitan,
Tatkala suami jadi rebutan.

Kalaulah memang bisa adilkan,
bersyukur tentu orang dapatkan,
tetapi susah untuk lakukan,
rebutan selalu yang dikerjakan.

II
hai...hai...
Kalau lelaki bicara ini,
menoleh dulu kesana sini,
biar tidak didengar bini,
kepala benjol sebesar kuwini.

Ada juga yang sok berani,
pastilah banyak tak disenangi,
padahal dirumah tidak begini,
takutnya...sungguh si suami.

Ada yang anggap sebagai seni,
mumpung hidup dang dijalani,
kalaulah sudah ditelan bumi,
tak mungkin bisa berpoligami.

III
Kata ini dibenci wanita,
menjadi sumber datanng sengketa.
membuat perang kata-kata,
atau mengalir air mata.

Kaum wanita pasti tak suka,
walau ditutup hati yang duka,
kadang berpura-pura tak luka,
padahal hancur batin mereka.

Lahir pula buruk sangka,
omongan dukun sangat disuka,
banyaklah kerja diterka-terka,
membuat suasana bagai neraka.

IV
Kaum lelaki memakai dalil,
agama boleh kalaulah adil,
tapi wanita akan menjebil,
karena yang cantik pasti diambil.

Apalagi sudah bermobil,
berdasi pula pabila tampil,
gaya elegan tak lagi dekil,
banyak yang naksir tinggal diambil.

Hai...hai, kaum lelaki mari terpanggil,
poligami bukanlah kecil,
kalau tak dapat berbuat adil,
pastilah susah didepan Izrail.

V
Baiknya banyak bertanya dulu,
jangan terabas tak pandang bulu,
takutnya nanti berakhir pilu,
nangis sendiri dimalam dalu.

Sekarang bukan zaman dahulu,
perempuannya nurut selalu,
kalau hatinya tersayat sembilu,
nyawapun akan bisa berlalu.

Kalaulah tidak begitu perlu,
ataukah sudah siapkan malu,
suara miring bak angin lalu,
silahkan saja jadi pelaku.

VI
Fikirlah betul sebelum bertindak,
kalau tak benar korbannya anak,
yang sudah ada kan jadi retak,
semua kan bubar dengan serentak.

Tegaklah diri sebagai bapak,
supaya benar posisi letak,
supaya kelak jangan tersentak,
setelah tua anak memberontak.

Janganlah malas memutar otak,
karena dua pundinya kotak,
sesuai perlu nafkah ditetak,
supaya keluarga jangan retak.

VII
Bagi mereka yang sudah jadi,
bekerja keraslah petang dan pagi,
jagalah betul baiknya budi,
supaya kuat himpunan lidi.

Perlulah pula banyak ibadah,
beristri banyak sungguh tak mudah,
beristri satu sering berbeda,
apalah lagi jumlahnya ganda.

Madahku berhenti  sampai disini,
pendapat pribadi sebagai seni,
kuakui bukan pria berani,
tuk jalani hidup berpoligami.

Inderalaya, Ba'da Magrib 7 Januari 2011
Al Faqir

Hamdi Akhsan

Pria idaman bermental Don Juan
Menikam sunyi mengobral rayuan
Diburu gadis jelita secantik biduan
Terlupa anak istri serba kekurangan.
 
aiih cerita poligami selalu jadi berita
apalagi pelakunya orang terkenal pula
menjadi sibuklah para kuli tinta
mengorek-ngorek keterangan buat cerita

...poligami bagiku sih oke-oke saja
yah asal yang sang pelaku adillah
nah masalahnya berlaku adil itu susah
jadi klo gak mau ada masalah, satu cukuplah

nah saya ini kan wanita
yang memandang poligami biasa saja
coz sekarang masih single pula
tapi klo nanti mungkin lain cerita... he..he..
 
pria@
berpoli gami itu boleh
tapi adil harus di toreh
kalau tidak, maka di pilih
setia pada satu si teteh
...
wanita@
kalau wanita tak mau di madu
sifat siti hadizah itu ditiru
soleh dan taat bertingkah laku
sampai kapanpun suami tetap rindu
 
jumlah cewe berbanding tiga
jika di banding dengan cowo
kalau laki-laki pada setia
nanti banyak wanita jomlo



                  Oleh
                  Hamdi Akhsan
I
Wahai Tuan...
Kelak di depan Mahkamah Ilahi engkau akan tertegun.
Kami akan mengambil  semua onderdil mobil yang rusak akibat buruknya jalan yang engkau bangun,
Kami akan menuntut semua pajak yang kami bayar namun malah engkau himpun,
dan menuntut realisasi janji-janji manis yang sudah engkau susun.

Kami muak...
Dengan kata-kata indah berselimut dusta,
Pergi kesana kemari habiskan ratusan milyar uang negara.
Bungkus kegagalan demi kegagalan dengan menyalahkan situasi dunia,
dan mempermainkan nilai mata uang sehingga menjadi semakin tak berharga.

Belum  lagi, hebatnya  korupsi  makin hari makin besar laksana  tumor ganas.
Menghisap darah rakyat kecil dengan sangat rakus dan trengginas,
Masuk ke rekening mereka yang rakus melebihi binatang buas.
Dan atas semua jeritan kaum papa yang selalu tergilas.
Kelak di akherat engkau akan dibalas.
dan...pasti impas.




III
Tuan...
Didesaku begitu banyak  perempuan yang menjadi  tenaga kerja wanita  ke luar negeri,
Karena dengan gaji dan kemewahan  fasilitasmu, lapangan kerja tidak bisa engkau beri,
Pintar benar engkau, arahkan media dan pakar sibuk dengan penganiayaan yang bikin ngeri.
Sedikit yang tahu kalau itu cara yang paling murah untuk keluar dari ketakmampuan diri.

Tuan...
Katanya negeri tuan adalah negeri orang-orang yang taat ibadah.
Bahkan kadang  secara menyolok orang bersama-sama istighosah,
Setiap tahun ratusan ribu haji dan jutaan yang pulang dari umrah,
Rumah ibadah dari segala  agamapun tumbuh  bagai  air tercurah,
Tapi mengapa kehidupan semakin sulit dan rakyat makin sengsara.

Tuan...
Suaraku sudah serak dari tadi  tak henti teriak-teriak  sampaikan  apa yang jadi kehendak.
Dibelakangku hanya  mereka yang memang berani atau belum kebagian kue yang banyak.
Sebahagian besar kawan-kawanku telah dibeli dan  sekarang ikut  juga mengkoyak-koyak.
Dan percayalah...sebentar lagi aku akan diambil dan dituduh telah berbuat yang tak layak.

Tuan...
Sebelum aku beranjak  pergi,
terakhir kusampaikan satu kalimat lagi,
Sehebat-hebatnya dirimu, kelak pasti akan mati,
dan dituntut ratusan juta orang didepan Mahkamah Ilahi.

Inderalaya, 17 Januari 2010
al Faqir

Hamdi Akhsan. 


wahai para demonstran yang baik hati
bukannya hati ini tidak simpati dan peduli
kami juga pusing tujuh keliling untuk memahami
kami tahu bahwa apa yang kami lakukan tak berarti

...wahai adik2, anda harus mengerti nasib kami
kami memang tak sempat membangun negeri
dengan sistem demokrasi yang ada saat ini
tak sempat dengan hati karena kami memang crazy

wahai adik2, kami tak mungkin tepati janji
karena memang banyak hutang sana sini
hampir pemilu kami belum sempat bayar lagi
itulah sebabnya nampak kami mencuri lagi

tenanglah wahai para demonstran,
hidup di dunia hanyalah permainan
kami khawatir anda juga bakal gituan
kami juga begitu sekarang dapat kesempatan

sabar para demonstran, waktu terus berjalan
negara kita sudah rusak sejak mereka yang duluan
sekarang memang sedang senang bola-bolaan
untuk alihkan kamu rakyat punya fikiran
 
Wahai sobat janji itu adalah hutang,
Ulama mengatakan Alwa'dudainun,
Kami bardiri bukan menantang.
Tapi cuma tersentak dr melamun.

...Dari hari ke hari kami manunggu,
Kapan negeri ini akan stabil.
Wajar rakyat selalu mengganggu,
Tak oerduli dengan hadis dan dal

Lagi2ulama berkata Man zulama zuliman,
Barang siapa menzolim pasti akan di zolimi.
Kami mengharap agar negeri aman,
Supaya rakyat tidak banyak keritisi
 
 Kata orang aji mumpung,
selagi di atas harta tumpuk segunung,
ntah dari mana yg pnting bisa dtampung,
ngak peduli rakyat kecil menderita perut busung.
...
Marah dan marahlah kalian smua,
tuan dah tak peduli sama kaum jelata,
tapi percuma dan buang-buang tenaga,
karna mata batin tuan tlah buta oleh harta.

Orang-orang tuan sekarang pada pandai ucap,
umbar janji dgn uang gelap,
yg penting dapat kursi empuk dan mantap,
dan makan lezat tuanpun tidur lelap.

Janji tuan adalah hutang,
harus dbayar biarpun nyawa mau melayang,
biarpun harta tuan setumpuk gudang,
percuma...,kalo neraka tuan brsarang. 
 
 
 
.
Oleh
Hamdi Akhsan

Pengantar
syair ini mencoba menyajikan informasi tentang nama-nama bulan dalam kalender Hijriyah untuk pengetahuan bagi anak-anak kita yang sudah asing dengan nama-nama bulan tersebut, dilanjutkan dengan hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah. Moga bermanfaat!

I
Dengan Bismillah madah berkisah,
bermohon  ampun  segala  dosa,
terjauh jiwa yang putus asa,
semakin dekat pada Yang Esa.

Syair kerkisah bulan hijriyah,
terkait dengan masa sejarah,
tatkala Rasul harus berhijrah,
ke kota Madinah Al Munawarah.

Berjalan Malam berminggu-minggu,
dengan Abubakar yang tiada ragu,
sahabat pembela dari pengganggu,
yang tangisi Rasul sampai tergugu.

II
Hijrahnya Rasul adalah tonggak,
Iman tersebar syariah tegak,
Musuh-musuhpun jadi tersentak,
Iblis pun sedih sampai terhenyak.

Karena hijrah yang bersejarah,
Khalifah Umar bermusyawarah,
untuk membuat tahun hijriah,
berdasar bulan patokan arah.

Dibuat jumlah duabelas bulan,
jumlah harinya tak disamakan,
tapi bulannya telah disebutkan,
berdasar sifat ia tetapkan.

III
Bulan Muharram itu pertama,
maknanya sama dengan nama,
tak boleh tumpah darah sesama,
yang berlaku sejak zaman lama.

Dibulan Muharram tiada perang,
semua patuh terhadap larang,
tak terkecuali mereka yang garang,
berlaku bagi semua orang.

Sebelum Islam Muharram berlaku,
setelah Islam jadi prilaku,
menjadi aturan semua suku,
yang disepakati menjadi baku.

IV
Bulan kedua disebut safar,
bermakna kosong ia tergambar,
karena lelaki pergi menyebar,
baik berjalan atau berlayar.

Dibulan safar lelaki pergi,
tak pernah lelah petang dan pagi,
susuri gurun ke banyak negeri,
berdagang mereka rezeki dicari.

Para wanita tinggal dirumah,
mengurus anak dan tugas utama,
bisa sebentar ataupun lama,
sebagai masa tinggal pertama.

V 
Bulan ketiga Rabiul awal,
rabi' bermakna menetap awal,
lelaki pulang membawa bekal,
hasil merantau dibawa bakal.

Rabiul awal banyaklah makna,
Nabi Muhammad lahir ke dunia,
diangkat Rasul Bulannya sama,
Berngkat Hijrah ke kota madinah.

Rabiul Awal Rasul meninggal,
dari dunia yang tidak kekal,
tinggalkan Islam sebagai bekal,
penuntun hati penuntun akal.

VI
Rabiu'ul akhir sesuai nama,
akhir menetap didalam rumah,
bersiap juga merantau lama,
pergi berdagang atau berhuma.

Bulan ini terakhir pergi,
sebelum datang panas yang tinggi,
supaya bekal dicari lagi,
untuk hidup petang dan pagi.

Pergi berdagang adalah cara,
ditengah gurun gersang mendera,
bintang dilangit sebagai arah,
walaupun letih mereka gembira.

VIIJumadil awal bulan ke lima
bermakna kering dimana-mana,
mentari terik panas merona,
tumbuhan layu mati merana.

Orangpun sibuk mencari sumur,
karena sedikit tanah yang subur,
air di wadi sangat terukur,
harus dihemat tak boleh tabur.

Panas disana sangatlah kering,
kalau tak kuat membuat gering,
jangan keluar bila tak penting,
atau karena masalah genting.

VIII
samalah pula Jumadil akhir,
musim kemarau akan berakhir,
sebentar lagi kan ada air,
udara sejuk angin semilir.

Orangpun senang sejuk kan datang,
keluar rumah tak lagi pantang,
badai pasirpun tak tutup pandang,
udara buruk kan segera hilang.

Walaupun kemarau yang penghabisan,
tetapi bukan musim penghujan,
disana air kan dibataskan,
supaya kelak tak kehabisan.

IX
Rajab itu bermakna mulia,
dijauhi kerja yang sia-sia,
dilarang berperang sesama manusia,
ataupun perbuatan mengandung dosa.

Dibulan rajab mi'rajnya Rasul,
sholat bermula asbabun nuzul,
sebagai ciri harus dipikul,
umat beriman secara syumul*

Perintah sholat di bulan rajab,
bila dikerja doa mustajab,
akan mulia saat dihisab,
tatkala mati tidak berkelejat.

X
Bulan ke delapan bulan Sya'ban
Berkelompok ia didefinisikan,
karena pedagang pergi rombongan,
supaya kuat di perjalanan.

Dibulan Sya'ban kiblat berpindah,
dari Masjidil Aqsha terus ke Ka'bah,
yang terjadi setelah hijrah,
ketika Rasul dikota madinah.

Di Bulan Rajab orang puasa,
menjelang ramadhan agar biasa,
selain itu kurangi dosa,
supaya kelak tidak disiksa. 
XI
bulan ke sembilan itu Ramadhan
sangat panas didefinisikan,
satu-satunya bulan dalam Alquran,
karena memiliki keutamaan.

Di bulan Ramadhan turun Alquran,
sepanjang masa jadi pegangan,
berpuasa bagi orang beriman,
baik laki-laki atau perempuan.

Ramadhan juga Perang badar,
turunlah pula lailatul Qodar,
ditunggu oleh orang yang sadar,
karena dosa akan dibakar.

XII
Bulan kesepuluh bernama syawal,
kebahagiaan makna berasal,
puasa dan zakat menjadi bekal,
tuk hadapi kelak hari yang kekal.

Semua orang kan bahagia,
puasa dan zakat dibayar sudah,
haus dan lapar telah dikerja,
bermaaf orang dihari raya.

Syawal juga bermakna ganda,
meningkat juga memang artinya,
dalam ibadah dan ruhaniah,
sebagai umat yang cinta Allah.

XIII
Dzulkaidah bermakna duduk,
waktu istirahat bagi penduduk,
menjelang datang masa yang sibuk,
urusi haji yang menggeluduk.

Kaum lelaki duduk di rumah,
nikmati masa sebulan lama,
orang hajipun siapkan kemah,
setiap tahun acaranya sama.

Tamu yang datang kan dihormati,
itu sudah jadi tradisi,
karena menjelang musim haji,
sebagai bakti pada Ilahi.

XIV
Bulan ke duabelas itu Zulhijah,
menunaikan haji maknanya bisa,
sejak Nabi Adam turun ke dunia,
sampai kelak dunia musnah.

Jutaan orang menuju Mekkah,
Hati terharu bercampur suka,
obati sedih beriring duka,
sebelum kelak ke alam baqa.

Dibulan itu puji terhambur,
tasbih dan takbir beserta syukur,
bermohon terjauh dari kufur,
dilapangkan kelak didalam kubur.

XV
Itulah makna bulan Hijriah,
sebagai bagian dari sejarah,
perlu diingat bujang dan dara,
agar terjaga catatan sirah.

Kalaulah tidak diperhatikan,
generasi kelak kan melupakan,
Islam menjadi kan diasingkan,
budaya syaitan jadi panutan.

diakhir syair kumohon maaf,
kalaulah salah dalam berucap,
ataupun ilmu yang tidak mantap,
semoga diberi iman yang tetap.

Inderalaya, 6 Januari 2011
Al Faqir


Hamdi Akhsan

SYAIR KUBUR-II

Posted by Marchsada



                  Oleh
                  Hamdi Akhsan

PENGANTAR
Syair kubur 1 berkisah tentang proses individu didalam kubur. Untuk syair kubur yang kedua akan dibahas tentang akibat-akibat kubur disebabkan prilaku duniawi. Moga manfaat!

I
Awali syair dengan istighfar,
bermohon ampun pada Yang Ghoffar,
atas musibah sering tak sabar,
walau peringatan telah ditebar.

Syairku ini berisi kabar,
tentang kubur yang tidak lebar,
daging dan tulang kelak kan bubar,
bau yang busuk akan menyebar.

Jasad dibungkus kain tiga lembar,
baru sebentar cacing menyambar,
malaikat membawa berita muktabar
semoga ini jadi iktibar.

II
Dimana-mana banyaklah kisah,
akibat didapat karena dosa,
didalam kubur berputus asa,
ingin kembali tapi tak bisa.

Sakit dan takut bercampur rasa,
dibalas adil seluruh jasa,
rangkuman amal seluruh masa,
sampai saat badan binasa.

Perduli orang kota ataupun desa,
orang terpandang atau biasa,
yang sederhana atau berjasa,
ketentuan berlaku sepanjang masa.

III
Adalah mayat dihimpit kubur,
tulang retak daging terhambur,
karena batas tanah yang kabur,
atau berbohong saat mengukur.

Ada yang hancur seperti bubur,
karena tak hormat sanak sedulur,
memohon maaf tapi terlanjur,
segala kejahatan sudah ditabur.

Jauhi juga sikap takabbur,
membuat kuburan sempit terukur,
kelak diakherat akan menekur,
sesali diri yang tak bersyukur.

IV
Berhati-hati si tukang riba,
sebelum mati banyak musibah,
menjelang mati jasad berubah,
menjadi gila bangun dan rebah.

Curang timbangan jangan dicoba,
harta yang ada terkena tuba,
membuat keluarga kena narkoba,
ahli warispun ribut berlomba.

Dikubur juga sungguhlah iba,
tak boleh duduk selalu rebah,
takkan diampun walau menyembah,
azab yang sudah malah ditambah.

V
Kasihan dengan para peminum,
mayatnya busuk sangat tak umum,
walau disiram minyak yang harum.
mata mendelik tak tampak senyum,

Saat dimandi orang kan maklum,
sakitnya maut sampai ke sumsum,
barulah mati kuburpun belum,
didapat sudah tanda terhukum.

Dipukul malaikat palu berdentum,
tulang dan daging bagai disentrum,
setiap jengkal ditusuk jarum,
disiksa malaikat tak pernah mafhum.

VI
Derita dialami orang yang sombong,
sakitnya mati menjerit melolong,
tiada satupun bisa menolong,
bagai digorok hewan dipotong.

Aduhai, apalah guna menjadi cukong,
tatkala mati tiada penyokong,
apalah kalau sudah dipocong,
masuk ke kubur ditanah bolong.

Setelah mati semuanya kosong,
hukuman hebat datang menyongsong,
segala siksa akan diborong,
tinggallah sesal tangis terlolong.

VII
Ada pula mayat dipaku,
karena zalimi yatim piatu,
harta mereka diaku-aku,
bahagian mereka tidaklah tentu.

Aduhai diri yang sering kaku,
di akherat dunia kelak tak laku,
walaupun emas bersuku-suku,
yang dipandang hanya tingkah laku.

Ini wasiat untuk diriku,
segala kurang hamba mengaku,
begitu banyak kesalahanku.
ampuni hamba wahai Tuhanku.

PENUTUP
Bermohon hamba kubur yang lapang,
teman yang baik dapat diundang,
walaupun amal tak cukup sedang.
taman surgapun indah terpandang.

Inderalaya, 16 Januari 2011
Al Faqiir


Hamdi Akhsan

Tiada guna harta dan ketampanan/kecantikan
Kecuali amal ibadah yang melekat di badan
Sebagai bekal kelak di hari kemudian
Menghadap ALLAH seru sekalian alam

...Kerana itu wahai saudara-saudara ku
Semasih hidup berbuat kebajikan sudah lah tentu
Berbuat zolim agar dijauh kan selalu
Dan...menjaga silaturrahmi sangat lah perlu


Hidup di dunia ini adalah Fana,
Ajal tak tahu kapan datangnya,
mari kita siapkan Bekal,
untuk hidup di alam yang kekal,

Alam yg kekal adalah Akhirat
disana kita akan di Laknat
bila kita tak sempat bertobat
Azab Allah sangatlah Dahsyat.

Ingat mati baik sekali
tuk mengabdi pada Illahi
jangan terlena urusan Duniawi
Agar tak menyesal di akhirat nanti



jika di kubur adanya badan
yang ditanya bukan lagi soal sedan
bukan juga soal papan
tetapi terbanyak soal iman

...memang di kubur tempat menyesal
orang taat juga harus menyesal
orang tidak taat lagi menyesal
orang yang engkar paling menyesal

ketika di dunia banyak bersenda
persoalan dunia menipu belaka
padahal sudah banyak diberi masa
hanya digunakan secara sia-sia

ketika hidup kita sia-siakan
tidak sempat memperbaiki iman
sering kita berkawan dengan syaithan
mati dapat dapat siksaan, kok heran?



                  Oleh
                  Hamdi Akhsan.

Salahuddin Al Ayyubi
I
Dihari ini...
Negeri para penakluk ditanah tinggi* bersimbah darah rakyat tak berdosa.
Musuh-musuh menghisap setiap liter emas hitam bagai rakusnya ular berbisa,
Para muslimah yang harus dilindungi diseret-seret bagaikan budak dan diperkosa,
Inikah harga diri sebuah generasi yang telah diberi amanah untuk menjadi khalifah?
Sungguh,kehinaan yang menyesakkan dada.

II
Mengapa begini?
Tujuh ratus tahun masa kejayaan tertutup debu sejarah,
kitab-kitab warisan berharga dari pusat-pusat peradaban telah dijarah.
Dipelajari dengan tekun, dibahas dengan teliti, maka musuhpun mampu kibarkan bendera.
Sedangkan pewaris para khilafah, hanya dijejali budaya dan seni dan teknologi sampah.

Di hari ini, kurindu jiwa-jiwa muda yang gigih wujudkan kejayaan,
Yang tekun pelajari kitab suci dan bekerja keras untuk sebuah kemuliaan,
Anakku, peradaban kini yang dikuasai syaitan telah dekat masa kematian,
siapkan dirimu untuk menjadi sang pelopor di garis terdepan.

III
Dalam sejarah periode pertama,
para pemuda pencinta Ilahi menjadi penjaga perbatasan negeri, keluar dari rumah.
Mata mereka tajam bagaikan mata elang di siang hari menatap jauh menembus panorama,
siap menerjang sehebat apapun musuh yang datang dengan tujuan tak ramah.

Dihari ini...
Khurasan (tanah tinggi), Baghdad (pusat dunia), dan negeri-negeri Muslim kaya minyak menjadi bumi terjajah.
Sedang saudara-saudaranya satu tubuh di seluruh penjuru bumi tiada peduli dan hanya diam saja,
bahkan masih asyik dengan hiburan musik dan makanan yang melimpah ruah diatas meja,
sedang di belahan bumi yang lain, jasad dan harga diri saudaranya telah dirajah,
dan muslimahnya pun dinista.

IV
Adakah...?
Jiwa-jiwa muda bak singa gurun akan menggetarkan  kesombongan musuh.
Tegakkan kembali harga diri dan membimbing kembali jiwa-jiwa yang rapuh.
Mereka yang dengan tabah meniti kepedihan jalan suci  harus ditempuh.
Hingga kehormatan, kejayaan, kemuliaan yang dijanjikan bisa kembali utuh.
Anakku,dipunggungmu cita ini kami tumpukan, dan tegaklah dengan kukuh.
belajarlah dari sejarah untuk  membangun kejayaan yang terlanjur runtuh.

Betapa...
Musuh tersenyum bangga melihat generasi baru habiskan waktu mengumbar syahwat.
Masa emas dalam kehidupan dipakai  berlenggak-lenggok di atas catwalk,
nyanyikan lagu-lagu asmara sampai suaranya soak,
sedangkan kehancuran sudah menyeruak.

Buku-buku tebal dan sulit tinggal menjadi koleksi usang dan berdebu di perpustakaan.
Tradisi membuka jendela dunia dengan buku nyaris tinggal kenangan,
Berpikir kritis pun tidak lagi menjadi sebuah kemestian,
semua terlena dalam orientasi kesenangan.

V
Anakku, generasi baru.
Belajarlah pada sejarah di masa lalu,
tentang paa pengukir tinta emas yang bisa gentarkan para seteru,
serta lahirkan  peradaban tinggi yang bertahan walaupun hanya tegak membisu.

Tunjukkan  karyamu!
Gertakkan gigi, tancapkan tekad arungi beratnya tantangan didepanmu,
Pancarkan energi yang melimpah ruah dengan kerja keras yang tidak semu.
Agar usia emas yang engkau miliki menjadi gizi peradaban bagaikan madu,
anakku, itulah yang kami rindu.


Inderalaya, 15 Januari 2011
Al Faqir

Hamdi akhsan



Oleh
Hamdi Akhsan


PENGANTAR
Syair ini diinspirasi oleh perjumpaan dengan seorang veteran yang menceritakan kepedihan masa perjuangan dan membaca situasi zaman ini. Moga relevan dengan situasi dan kondisi sekarang. Amien!

I
Teringat  daku ke masa  enampuluh  enam  tahun yang  silam,
Sebuah era yang merubah wajah  sejarah  sepanjang zaman,
lahirkan syuhada yang darahnya harum bagai bunga ditaman,
serta  melahirkan  kisah abadi yang indah dihati semua teman.

Tiada kebanggaan diri,
kecuali  niat perjuangan suci,
usir para penjajah dari bumi pertiwi,
dengan satu tekad, merdeka atau mati.

Yang ada hanya shuhada disambut para bidadari,
Dari jasadnya mengalir darah yang harum tiada terperi,
Menyambut janji Ilhahi tentang teguhnya sebuah transaksi,
Syahid dijalan Allah bela agama, atau merdeka tiada terjajah lagi.

II
Kini, setelah enam  dasa warsa bangsa ini bebas dari penjajahan.
Kemajuan  sudah  kentara  dalam segala  bidang kehidupan.
Dalam segala  segi   banyak hasil  fikiran para  ilmuwan.
Serta dalam segala aspek sudah banyak aturan.

Tapi, betapa dalam kepedihan di hati kami,
rakyat kecil seaka-akan  tiada arti,
tetap dianggap sebagai duri,
tidak dijunjung tinggi.

Pejabat pergi  kemana-mana dengan pengawalan yang ketat,
Aneh, dikawal begitu seakan  takut  berjumpa dengan rakyat.
Jalan-jalan yang dibangun begitu mahal sebentar rusak berat.
Dan protes terhadap parahnya  situasi pasti  dihadang aparat.

III
Betapa sederhananya cara rakyat kecil keluhkan kepedihan,
Nilai tukar hasil bumi dan indutri semakin senjang,
Menjadi petani identik dengan penderitaan,
dan selama  hidup dililit hutang.

Apa lagi yang harus dilakukan,
kecuali pasrah jalani pedihnya kehidupan,
dari hari ke hari berjuang dalam sedu dan sedan,
orang-orang yang berkuasa seakan tuli dan menyepelekan.

Ke depan, apalah  lagi yang akan terjadi,
ciri akan hancurnya sebuah bangsa tidak terhindar lagi,
perpecahan yang  hebat seakan tinggal menunggu hitungan hari,
dan jutaan rakyat kecil menunggu datangnya pemimpin bagai al-Mahdi.

IV
apakah ini pertanda kehidupan negeri telah menjelang ajal?
atau memang pertanda telah datangnya era dajjal?
sehingga terhadap bencana orang tetap kebal,
betapa nafsu sudah tenggelamkan akal,
dan kehancuran pastilah bakal.

Kini, para pahlawan sudah mati,
pesan-pesan kebaikan tidak didengar lagi,
telinga yang lebar  memberi pendengaran yang tuli,
dan terhadap peringatan dan nasehat seakan hati telah mati.

Tuhan, selamatkan negeri ini.

Inderlaya, 16 Januari 2011
Al Faqir

Hamdi Akhsa



                   Oleh
                    Hamdi Akhsan


I
Kekasih...
Kurasakan lembutnya bisikan kidung suci hamba-Mu Daud di tengah sekaratnya peradaban.
Masih ada jiwa-jiwa yang masih rindukan tegaknya keberkahan dan  kebenaran,
Tebarkan kasih-Mu pada tunas-tunas yang baru tumbuh bermekaran,
harum mewangi bagaikan  bunga ditaman.

Pada puncak jayanya  peradaban  materi,
Perlahan muncul kesadaran dan kebangkitan spiritualitas insani,
Jiwa-jiwa manusia yang bergelimang harta menangis pilu dimalam hari.
Bagai tersesat di tengah samodera bahari yang maha luas dan tak bertepi.
Kekasih,kemana kami harus pergi?

II
Dalam hening dan gelapnya malam jiwa meronta,
Ratapi kepedihan dan kesenangan semu yang berselimut dusta.
Sungguh kemiskinan hati di tengah gelimang materi menyimpan kehampaan dan derita,
berlawan sungguh dengan apa yang ada dalam pandangan mata,
kekasih, ini bukanlah cinta!

Cinta yang sesungguhnya memberi ridho dan pemuasan dahaga jiwa,
Membuat para pejuang dengan pekikan takbir rela kurbankan nyawa.
Menjadikan para  pencinta-Mu banyak  menangis dan sedikit tertawa,
Sehingga terpancar cahaya iman dan ketaqwaan yang penuh wibawa.

III
Kekasih...
Akankah muncul pencinta-Mu yang tangguh bagaikan Panglima Saladin,
Penguasa sederhana yang  sanggup mengusir musuh  dari bumi  Filistin,
Berbekal kekuatan iman, kecerdasan diri, serta doa orang-orang miskin.
Dan terhadap pertolongan Allah ia benar-benar yakin.

Kekasih.
Kurindukan jiwa-jiwa muda yang tekun tegakkan panji-panji kebenaran-Mu.
Tak gentar dengan  segala sebutan  yang diberikan oleh musuh-musuh-Mu.
Yang  tidak  berjuang  untuk  materi, ketenaran serta  tujuan-tujuan semu,
Serta sanggup hadapi kepedihan akibat penghinaan para pembenci-Mu,
karena-Mu, dijalan-Mu, dan untuk-Mu.


Kekasih...
Sungguh, kami mohon pertolongan-Mu.

Al Faqir

Hamdi Akhsan.



                  Oleh
                  Hamdi Akhsan.


PENGANTAR
Ini syair ratapan seorang istri yang bercerai dan segala akibatnya dimasa tua.
I
Seorang wanita tua duduk sendiri di dipan buluh sebuah gubuk sunyi.
Air matanya menetes, pandangan hampa menembus waktu yang telah dilewati.
Semua kebahagiaan, indahnya cinta, kasih sayang, dan kehangatan berlalu bagai mimpi.
Lenyap bersama putusnya sebuah ikatan suci karena terlalu memperturutkan nafsu dan emosi.

Kini tinggallah sesal runtuhkan jiwa,
tak tahu  permata  hati berserakan  dimana,
tercerai-berai bagaikan pasir dihembus badai tiada daya,
dan dahulu masing-masing pergi dengan ratapan hati yang terluka.

II
Dalam dada rentanya ia sesali keputusan masa silam yang telah dibuat,
ketika badai menimpa rumah tangganya begitu hebat.
Syaitan telah membuatnya lupa semua nikmat,
yang ada hanya dendam kesumat

Tak peduli permintaan maaf suami dan ratap tangis putra-putri tercinta,
dalam kemarahan, lukanya harga diri ia tinggalkan rumah,
Di tengah keangkuhan dan keyakinan ia pasti bisa,
tegakkan kemuliaan saat berpisah.

Tiada maaf didalam hati,
yang terpelihara hanya dendam karena disakiti.
Tak dikenang kebahagiaan dan cinta dari Allah yang Maha Pemberi,
Baginya segala kesakitan dan pengkhianatan suami akan dibawa sampai mati.

III
Tetapi ia lupa,
bahwa hidup manusia tidaklah sempurna,
dalam waktu ada senang dan susah, sedih dan gembira,
dan terkadang serentak  mengiringi satu  peristiwa dengan tangis dan tawa.

Manakala  tenaga  makin  lemah, wajah  keriput dimakan usia yang  makin  menua,
lintasan kenangan demi kenangan indah dari suami dan anak tercinta mulai terasa,
sedang dirinya mulai sadar bahwa kebencian yang  sangat akan berbalik jadi coba.
Karena Allah tidak suka  dengan  keputusan  yang  diambi l manusia dalam amarah,

Betapa ingin untuk pulang, bersimpuh dihadapan suami dan anak-anak tercinta,
Rasakan hangatnya kasih dan celoteh cucu yang bermanja.
Tapi semua tidak mungkin, tak tahu mereka dimana,
dan untuk makanpun uang tak ada.

IV
Ia bergumam, dimana engkau hai anak-anakku,
kini telah begitu letih sendi-sendi tulangku,
dan aroma kematian telah mendekatiku,
sang Maut pun kan menjemputku.
'tuk menghadap pada Tuhanku,
sebagaimana dulu janjiku.

Kini hanya sesal yang menggelora,
mengapa dahulu memperturutkan amarah,
merasa mampu hidup sendiri meski berkeringat darah,
dan...semuanya tiada guna tatkala kerentaan telah mendera.

V
Padamu yang masih bertahan,
betapa  daku  ingin  berpesan.
jangan   turutkan  kemarahan,
karena sesal datang perlahan.

Syukurilah karunia Allah walau pasti ada kekurangan.
Hindari curiga dan saling suka mencari kesalahan,
karena pada setiap jiwa tiada kesempurnaan,
itulah hukum Allah sampai akhir zaman.
karena sifat menuju kefanaan.

Percayalah pada taqdir Ilahi,
kesenangan dan kesedihan silih berganti,
Terhadap musibah kuatkan selalu kesadaran diri,
dan apabila datang kebaikan dan kesenangan selalulah syukuri.

VI
Hatiku telah patah,
perceraian karena amarah membuatku menderita,
segala yang kubenci pada akhirnya berbalik  arah.
Semua laku yang dulu tak kusuka dijadikan   coba,
dan ternyata diriku  bukanlah  orang  yang tabah.

Pesanku...
Menjelang dibuat putusan akhir,
Panjangkanlah dahulu zikir dan fikir,
agar kelak tak menyesali pilihan taqdir,
serta mampu menjadi pembela di Yaumil akhir.

Inderalaya,15 Januari 2011
Al Faqir

Hamdi Akhsan.

Memang asyik bermain kata
Membuat orang jadi terpana
Syair pantun memang berguna
Sebagai cermin kehidupan kita

...Sebelum sesal datang mendera
Bersikap tindak harus waspada
Berfikir sehat juga utama
Agar hari tua tak menderit
 
Sesal dahulu pendapatan
ada baiknya diulang pikirkan
sebelum putuskan perceraian
tiada berguna sesal kemudian
 
 

.SYAIR TENTANG TAHUN HIJRIYAH

Wednesday, January 12, 2011
Posted by Marchsada


Oleh
Hamdi Akhsan

Pengantar
syair ini mencoba menyajikan informasi tentang nama-nama bulan dalam kalender Hijriyah untuk pengetahuan bagi anak-anak kita yang sudah asing dengan nama-nama bulan tersebut, dilanjutkan dengan hijrahnya Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah. Moga bermanfaat!

I
Dengan Bismillah madah berkisah,
bermohon  ampun  segala  dosa,
terjauh jiwa yang putus asa,
semakin dekat pada Yang Esa.

Syair kerkisah bulan hijriyah,
terkait dengan masa sejarah,
tatkala Rasul harus berhijrah,
ke kota Madinah Al Munawarah.

Berjalan Malam berminggu-minggu,
dengan Abubakar yang tiada ragu,
sahabat pembela dari pengganggu,
yang tangisi Rasul sampai tergugu.

II
Hijrahnya Rasul adalah tonggak,
Iman tersebar syariah tegak,
Musuh-musuhpun jadi tersentak,
Iblis pun sedih sampai terhenyak.

Karena hijrah yang bersejarah,
Khalifah Umar bermusyawarah,
untuk membuat tahun hijriah,
berdasar bulan patokan arah.

Dibuat jumlah duabelas bulan,
jumlah harinya tak disamakan,
tapi bulannya telah disebutkan,
berdasar sifat ia tetapkan.

III
Bulan Muharram itu pertama,
maknanya sama dengan nama,
tak boleh tumpah darah sesama,
yang berlaku sejak zaman lama.

Dibulan Muharram tiada perang,
semua patuh terhadap larang,
tak terkecuali mereka yang garang,
berlaku bagi semua orang.

Sebelum Islam Muharram berlaku,
setelah Islam jadi prilaku,
menjadi aturan semua suku,
yang disepakati menjadi baku.

IV
Bulan kedua disebut safar,
bermakna kosong ia tergambar,
karena lelaki pergi menyebar,
baik berjalan atau berlayar.

Dibulan safar lelaki pergi,
tak pernah lelah petang dan pagi,
susuri gurun ke banyak negeri,
berdagang mereka rezeki dicari.

Para wanita tinggal dirumah,
mengurus anak dan tugas utama,
bisa sebentar ataupun lama,
sebagai masa tinggal pertama.

V 
Bulan ketiga Rabiul awal,
rabi' bermakna menetap awal,
lelaki pulang membawa bekal,
hasil merantau dibawa bakal.

Rabiul awal banyaklah makna,
Nabi Muhammad lahir ke dunia,
diangkat Rasul Bulannya sama,
Berngkat Hijrah ke kota madinah.

Rabiul Awal Rasul meninggal,
dari dunia yang tidak kekal,
tinggalkan Islam sebagai bekal,
penuntun hati penuntun akal.

VI
Rabiu'ul akhir sesuai nama,
akhir menetap didalam rumah,
bersiap juga merantau lama,
pergi berdagang atau berhuma.

Bulan ini terakhir pergi,
sebelum datang panas yang tinggi,
supaya bekal dicari lagi,
untuk hidup petang dan pagi.

Pergi berdagang adalah cara,
ditengah gurun gersang mendera,
bintang dilangit sebagai arah,
walaupun letih mereka gembira.

VIIJumadil awal bulan ke lima
bermakna kering dimana-mana,
mentari terik panas merona,
tumbuhan layu mati merana.

Orangpun sibuk mencari sumur,
karena sedikit tanah yang subur,
air di wadi sangat terukur,
harus dihemat tak boleh tabur.

Panas disana sangatlah kering,
kalau tak kuat membuat gering,
jangan keluar bila tak penting,
atau karena masalah genting.

VIII
samalah pula Jumadil akhir,
musim kemarau akan berakhir,
sebentar lagi kan ada air,
udara sejuk angin semilir.

Orangpun senang sejuk kan datang,
keluar rumah tak lagi pantang,
badai pasirpun tak tutup pandang,
udara buruk kan segera hilang.

Walaupun kemarau yang penghabisan,
tetapi bukan musim penghujan,
disana air kan dibataskan,
supaya kelak tak kehabisan.

IX
Rajab itu bermakna mulia,
dijauhi kerja yang sia-sia,
dilarang berperang sesama manusia,
ataupun perbuatan mengandung dosa.

Dibulan rajab mi'rajnya Rasul,
sholat bermula asbabun nuzul,
sebagai ciri harus dipikul,
umat beriman secara syumul*

Perintah sholat di bulan rajab,
bila dikerja doa mustajab,
akan mulia saat dihisab,
tatkala mati tidak berkelejat.

X
Bulan ke delapan bulan Sya'ban
Berkelompok ia didefinisikan,
karena pedagang pergi rombongan,
supaya kuat di perjalanan.

Dibulan Sya'ban kiblat berpindah,
dari Masjidil Aqsha terus ke Ka'bah,
yang terjadi setelah hijrah,
ketika Rasul dikota madinah.

Di Bulan Rajab orang puasa,
menjelang ramadhan agar biasa,
selain itu kurangi dosa,
supaya kelak tidak disiksa. 
XI
bulan ke sembilan itu Ramadhan
sangat panas didefinisikan,
satu-satunya bulan dalam Alquran,
karena memiliki keutamaan.

Di bulan Ramadhan turun Alquran,
sepanjang masa jadi pegangan,
berpuasa bagi orang beriman,
baik laki-laki atau perempuan.

Ramadhan juga Perang badar,
turunlah pula lailatul Qodar,
ditunggu oleh orang yang sadar,
karena dosa akan dibakar.

XII
Bulan kesepuluh bernama syawal,
kebahagiaan makna berasal,
puasa dan zakat menjadi bekal,
tuk hadapi kelak hari yang kekal.

Semua orang kan bahagia,
puasa dan zakat dibayar sudah,
haus dan lapar telah dikerja,
bermaaf orang dihari raya.

Syawal juga bermakna ganda,
meningkat juga memang artinya,
dalam ibadah dan ruhaniah,
sebagai umat yang cinta Allah.

XIII
Dzulkaidah bermakna duduk,
waktu istirahat bagi penduduk,
menjelang datang masa yang sibuk,
urusi haji yang menggeluduk.

Kaum lelaki duduk di rumah,
nikmati masa sebulan lama,
orang hajipun siapkan kemah,
setiap tahun acaranya sama.

Tamu yang datang kan dihormati,
itu sudah jadi tradisi,
karena menjelang musim haji,
sebagai bakti pada Ilahi.

XIV
Bulan ke duabelas itu Zulhijah,
menunaikan haji maknanya bisa,
sejak Nabi Adam turun ke dunia,
sampai kelak dunia musnah.

Jutaan orang menuju Mekkah,
Hati terharu bercampur suka,
obati sedih beriring duka,
sebelum kelak ke alam baqa.

Dibulan itu puji terhambur,
tasbih dan takbir beserta syukur,
bermohon terjauh dari kufur,
dilapangkan kelak didalam kubur.

XV
Itulah makna bulan Hijriah,
sebagai bagian dari sejarah,
perlu diingat bujang dan dara,
agar terjaga catatan sirah.

Kalaulah tidak diperhatikan,
generasi kelak kan melupakan,
Islam menjadi kan diasingkan,
budaya syaitan jadi panutan.

diakhir syair kumohon maaf,
kalaulah salah dalam berucap,
ataupun ilmu yang tidak mantap,
semoga diberi iman yang tetap.

Inderalaya, 6 Januari 2011
Al Faqir

Sudah banyak pekerjaan,
Masih sempat baca sejarah,
Di jadikan syair yang sangat menawan,
Tentang bulan Hijriah.


tahun hijrah sering terlupa
tahun masehi dirayakan meriah
yang muslim ikut-ikutan tiup terompet pula
ah benar-benar mau terbalik nih dunia


                (antologi Syair Akhir Zaman)

                Oleh
                Hamdi Akhsan.


I

Anakku...
Tadi ayah bertemu seorang nenek yang renta,
di rumah jompo kini hari-harinya ditata,
mata cekungnya nampak nyaris buta,
dan garis wajahnya banyak derita.

Jalannya pelan dan tertatih,
seperti hidup telah membuatnya letih,
dalam dada rapunya sering terdengar desah rintih,
menunggu dipanggil dan kelak dikubur dengan tulang memutih.

II
sudut bibirnya bergetar dan tuturnya mengalir perlahan,
tentang kenangan yang membuatnya bertahan,
suami tercinta pergi menghadap Tuhan,
bagaikan kayu patah dahan.

Tujuh anak besar dalam tiada,
berjuang dengan sedu sedan tangis didada,
Kini mereka telah menjadi terpandang dan berada,
tak sempat lagi untuk mengurus rentanya sang ibunda.

III

Ia terus bertutur...
Zaman baru yang tak bertuhan merubah manusia,
suami istri sibuk bekerja untuk mencari jasa,
rumah dan anak ditinggalkan sudah biasa,
bahkan bila wanita dirumah, malu rasa.

Sedang aku,
Tubuh telah lemah dan sendipun kaku,
untuk jadi pengasuh anaknya sudah tak laku,
pandangan kasihan terasa menghujam didadaku,
sangatlah perih bagaikan dipalu dengan ribuan paku.

IV
Belumlah lagi cara bersikap cucu-cucuku,
sangat berbeda dengan cara dizamanku,
kalau aku sedikit keras mereka mendelik padaku,
seakan terasa begitu tak berharganya keberadaanku.

Mereka katakan standar moralitas dariku sudah usang,
sekarang zaman orang untuk bersenang-senang,
hubungan pria dan wanita tak perlu dipantang,
semua diterjang tanpa mampu dihadang.

V
Setiap siang, rumah besar mereka sepi,
malampun semua sibuk sendiri-sendiri,
antara keluarga hampir tiada komunikasi,
bahkan dirumahpun nyaris tanpa interaksi.

Tidak lagi terdengar suara orang mengaji,
pembicaraan selalu berkisar tentang gaji,
Rencana ke Singapura belanja,bukan haji,
sungguh dirumah-rumah mewah Tuhan telah mati.


VI
Hampir setiap malam terdengar tangis,
teriakan amarah atau bentakan yang bengis,
kadang menghiba-hiba bagaikan suara pengemis,
ternyata jauh dari agama membuat mereka tidak harmonis.

Teringat ibu ajaran yang pernah didengar tatkala masih kecil,
harta yang tak dizakati membuat sifat jadi bakhil,
pemberian sedikit sudah membangkil,
walau hanya sebesar kerikil.


VII
Mereka memang tidak mengusirku,
tapi dengan terpaksa mengurusku,
tak lagi memandang keberadaanku,
dengan tidak menjaga tingkah laku.

Jiwa rapuhku tak lagi kokoh,
lebih baik bagiku ke rumah jompo,
berteman dan berbagi dengan orang bodoh,
namun didalam jiwa mereka iman dan kasih tak roboh.

VIII
Anakku...ayah tercenung,
haru menyesak didalam dada bagaikan gunung,
akankah masa tuaku kelak daku menjadi ayah yang beruntung,
menjadi kecintaan anak cucu yang semasa hidup disanjung-sanjung.

Walau dihari ini tubuh tuaku letih mencari rezeki ke berbagai penjuru,
Agama dididikkan padamu sebagai kewajiban nomor satu,
agar kasih sayang dan iman tidak membatu,
dan dunia tidak kau anggap ratu.

IX
Ayah pun terus merenungkan diri,
tanpa sadar nenek tua itu telah pergi,
tanpa tahu harus dicari kemana lagi,
hanya doa dan penghargaan tinggi,
karena ia telah mengajari dan berbagi.

Inderalaya, 04-01-2011
Al Faqir

Hamdi Akhsan



Naudzubillahi min Dzalik
Oleh
Hamdi Akhsan.

PENGANTAR
Syair ini merupakan deskripsi kisah Alqomah, Kisah ulama difitnah pelacur di zaman Musa, dan Interpretasi religius kisah malin kundang. Moga manfaat untuk dibaca atau dibacakan ke anak-anak kita. amien! 

I
Nafas tersengal menatap langit,
sekujur tubuh terasa sakit,
membiru daging berbalut kulit,
mulut terkunci sulit menjerit.

Terasa dada dihimpit bukit,
tarik nafaspun begitu sulit,
sampai matapun harus terjelit,
tiada jeda walau sedikit.

sudah berbulan terkapar sakit,
segala telah habis walau diirit,
yang tinggal hanya potongan jarit,
sungguh diakhir begitu pahit.

II
Tuhan...
Hamba-Mu ini sudah terkulai,
rindukan ibu mau membelai,
menyesal daku mengapa lalai,
ayah dan bunda sering diabai.

Malaikat maut-Mu kini telah sampai,
membawa gada membawa rantai,
acung padaku untuk dipakai,
sebagai balas dosa sesuai.

Terbayang kelak usus terburai,
rambut yang rontok berhelai-helai,
daging dan tulang tercerai berai,
karena buruknya amal dinilai,

III
Ibu...
Betapa diri ingin tiarap,
maaf dan ampun sungguh kuharap,
sakiti engkau dalam bersikap,
tak tunduk hati dalam menatap.

dihari ini daku meratap,
abadi azab pastilah tetap,
tak mungkin lagi kudapat maaf,
ibu telah ada dikubur gelap.

Terbayang saat tubuhku tegap,
jabatan ada hartapun mantap,
mobil yang bagus indah mengkilap,
ternyata buat diriku silap.

IV
Ibu dikampung tinggal sendiri,
setelah ayah hadap Ilahi,
semua dikerja seorang diri,
tanpa mengeluh setiap hari.

Setiap ananda ingin menjemput,
selalu kerja banyak menuntut,
fikiran ananda yang carut marut,
niat menjemput tidak terwujud.

Terhadap itu ibunda diam,
perih di hati begitu dalam,
menangis sendiri ditengah malam,
serahkan diri ke Penguasa Alam.

V
Ternyata semua berbuah sesal,
memang terjadi semua bakal,
bunda dikampung sudah meninggal,
menangis diri bak hilang akal.

Teringat kecil watak yang nakal,
membuat hati ibunda kesal,
bolos sekolah secara massal,
saat kuliah minta tambah bekal.

Ketika gaji sudah setimpal,
uangpun ada sebagai modal,
ingin berkirim seringlah batal,
karena niat lemah diawal.

VI
Setelah bunda telah tiada,
menangis daku sesak didada,
dipacu tinggi iman didada,
tapi semua sebentar saja.

Kembali diri ke tengah kota,
sibuklah diri kerja ditata,
waktu berlalu terus ternyata,
digapai sungguh apa dicita.

Iman yang naik kembali rendah,
semua berjalan begitu mudah,
ternyata hidup bagaikan roda,
segala sudah catatkan qadha.

VII
Ketika umur makin bertambah,
Jalannya hidup mulai berubah,
resahlah diri tak bisa cegah,
perlahan-lahan dicabut berkah.

Anak dirumah sesuka-suka,
kata yang muncul membawa luka,
masih didunia sudah berduka,
itu balasan anak durhaka.

Menyesal diri tak ajak bunda,
dalam mendidik memakai dada,
kata yang lembut bagaikan nada,
membuat sejuk hati ananda.

VIII
Karena sering menahan hati,
badanpun sakit tak dimengerti,
uangpun habis tuk mengobati,
hartapun habis tiada berarti.

Kini jasad menjelang mati,
berbulan sudah bak dipahati,
sakitnya sungguh ke ulu hati,
bagai ditikam pisau belati.

Duduk menunggu anak dan istri,
tak tahu cara membantu beri,
berlangsung terus berpuluh hari,
betapa berat sakit dan nyeri.

IX
Tuhan...
Malaikat maut membuat kecut,
wajah seramnya membuat takut,
tapi mengapa tak mau cabut,
tulang dagingku sudah mengkerut.

Terbayang bunda dulu ingin ikut,
tetapi daku tak sempat jemput,
ternyata sampai datangnya maut,
luka hatinya tiada tertaut.

Yang telah hilang tak bisa rebut,
tak guna sesal dihati sudut,
atau menangis berlarut-larut,
tak sempat kata maaf disebut.

X
Tuhan...
Betapa malang diriku ini,
jasad sekarat menjelang mati,
bagai ditusuk seluruh hati,
didunia saja ini seperti.

Kalaulah boleh menangis darah,
supaya Engkau tak lagi marah,
walau harus seberangi laut merah,
kan kukerjakan tanpa menyerah.

Tapi semua telah berlalu,
tinggallah sesal sambil tersedu,
didalam kubur sengsara tentu,
dalam neraka dihimpit batu.

XI
Disaat nyawa terus meregang,
berkelejat jasad lemah dan tegang,
Nyawa tubuhku hampir melayang,
dengarlah nasehat maut menjelang.

Anakku...
Walau bundamu tak berpendidikan,
tak bisa pula beperhiasan,
bahasanyapun tak tertatakan,
tapi baktimu diutamakan.

Hidup yang berkah karena bakti,
mengurus bunda sepenuh hati,
jangan dibuat pengasuh nanti,
karena bekerja suami istri.

XII
Takala tubuhnya semakin renta,
berhati-hati dalam berkata,
karena sering bersalah sangka,
membuat hatinya kan menderita.

Kalaulah sempat haturkan maaf,
ridhokan air susu dihisap,
letihnya bangun ditidur lelap,
diamkan tangismu yang terkesiap.

Alangkah indah kalaulah mungkin,
saat meninggal pasangkan kain,
sebelum itu haruslah yakin,
maaf diberi ridho dipimpin.

XIII
Anakku...
Diriku sudah makin sekarat,
sebentar lagi nyawaku lenyap,
tak mampu lagi daku meratap.
hanya ampunan yang daku harap.

deritaku kini telah lengkap,
Pandanganku kini mulai gelap,
malaikat  mencabut bagaikan kalap,
wahai diri...tak guna lagi engkau meratap.

Naudzubillahi mind dzalik.

al Faqir

Hamdi Akhsan.

Adakah kita malin kundang itu
Tanpa sadari durhaka pada ibu
Selalu berkata ahh atau uuu
Membuat ibu merenung selalu

...Adakah kita malin kundang itu
Selalu membuat hati ibu kelu
Selalu membuat hatinya pilu
baiknya sadari sebelum ia berlalu.

Demi masa yang terus melaju
Janji Allah pasti berlaku
Durhaka pada ayah dan ibu
Dibalas Allah dengan palu.




     Oleh
     Hamdi Akhsan
I
Tuhan...
Malaikat-Mu kini telah datang,
tuk membawaku segera pulang,
karena janji sudah menjelang,
bagaikan badai tiada penghalang.

Sesalku bukan alang kepalang,
tak guna dulu gagah menjulang,
banggakan kulit berbungkus tulang,
tiada satupun kubawa pulang.

Walaupun harta tiada berbilang,
anak dan istri cantik cemerlang,
mobil yang bagus serta gemilang,
semua tinggal saat berpulang.

II
Menggigil hamba didalam takut,
nyawa didada bagai tersangkut,
rasanya setiap senti berderut,
bagaikan  batang  ubi  dicabut.

Betapa hamba sangat terkejut,
tiada disangka waktu telah runtut,
iblis menipu sungguh tak patut,
sekarang baru terasa takut.

Nama-Mu sungguh jarang kusebut,
harta jabatan selalu direbut,
sogok-sogokan juga diturut,
tak guna lagi saat nyawa dicabut.

III
Kini diriku tinggalllah sesal,
nafas didada tersengal-sengal,
kepala terangkat darilah bantal,
tetapi gunanya tak ada bakal.

Terbayang tingkah hidup yang nakal,
dpakai cara seribu akal,
tak perduli orang kan kesal,
yang penting sampai mauku bakal.

Seluruh tubuh terasa pegal,
urat-uratpun bagai dipuntal,
malaikat seram bagai penjagal,
ya Allah,betapa diri sangat menyesal.

IV
Terbayang hamba disaat muda,
betapa sering busungkan dada,
merasa lebih juga berbeda,
sekarang guna sudah tak ada.

Ayat dan hadits dipandang rendah,
sibuk berdendang alunkan nada,
peduli umur bertambah sudah,
sampailah taqdir sebagai tanda.

Tersengal-sengal nafas didada,
tangan membiru warnanya sudah,
gemetar tubuh tak reda-reda,
sakitnya terus tak ada jeda.

V
Wahai kekasih...
Betapa airmata berlinang,
sakitnya bukan alang-kepalang,
mata melotot badan mengejang,
disaat maut datang menghadang.

Jasadpun layu bersambung erang,
serasa putus sambungan tulang,
matapun kian jauh menerawang,
pertanda nyawa telah melayang.

Sebelum mati sudah terbayang,
banyaknya tinggal waktu sembahyang,
infaq shodaqoh sangatlah sayang,
watak yang kejam semua tertayang.

VI
Kekasih...
menyesal kini tak ada guna,
Semua disampai sudah karena,
tinggallah diri akan merana,
jasad kan hancur dihimpit tanah.

Dahulu contoh dimana-mana,
orang dikubur terhimpit tanah,
daging terhambur mengalir nanah,
tetapi hamba masih terlena.

Harapan hamba kini telah sirna,
menangis darahpun tiasa berguna,
tinggallah kelak akan merana,
sengsara hidup di alam sana.

VII
Doa penulis..

kutulis syair diujung pena,
berharap bisa jadi sarana,
gemetar diri takut karena,
tak sanggup kelak mati merana.

sungguh dunia penuh pesona,
bagaikan dara cantik merona,
terkadang lupa akherat sana,
gelapnya kubur mati terhina.

Kekasih...
Sebelum jasad berjumpa fana,
bermohon daku hamba yang hina,
Berilah hati intan laksana,
supaya kelak berjumpa jannah.

VIII
Sebelum cahaya mataku sirap,
jasad terkapar dibawah atap,
papan kuburku dimakan rayap,
bermohon hamba dipanggil siap.

Ratapan sedih kan hamba ungkap,
didalam takut tersimpan harap,
yang tersembunyi kadang tersingkap,
ingin menangis sampai tengkurap.

Tersedu hamba ungkapkan ratap,
berilah hamba iman yang mantap,
beserta yakin diri yang rangkap,
jumpa dengan-Mu adalah tetap.

Kekasih...hamba takut siksa-Mu dan rindukan ampunan-Mu.

Inderalaya, 3 Januari 2011
al Faqir

Kalau hamba ingatkan mati,
serasa lepas tulang dan sendi
krn tak penuh jalankan perintah Ilahi,
amal ibadah tak disemangati.

...Kalau teringat kan siksa kubur,
aduhai badan serasa hancur,
karena sering sia-siakan umur,
kerjakan solat selalu diundur.

Maksud hati ingin nian mengabdi,
menjalankan perintahMu malam dan pagi,
tapi tak kuat iman didiri,
tergoda gemerlapnya hidup duniawi.

Duhai Dikau Ilahi Robbi,
beri kesempatan perbaiki diri,
menjalankan perintahmu sekuat hati,
'tuk jadi bekal menghadapMu nanti.

SYAIR CINTA SEORANG IBU DITENGAH MALAM.

Tuesday, January 11, 2011
Posted by Marchsada



Oleh
Hamdi Akhsan


Ditengah dinginnya udara tengah malam,
kudengar rengekan bayi merapat makin dalam,
dalam hangatnya dekapan bunda ia pun tidur terdiam,
Dalam belai kasih seluas samudera sang bunda bergumam,
anakku, engkau baru akan terbit sedang kami menuju tenggelam.

Karena Cinta kuikhlaskan diri yang indah jadi berantakan,
karena cinta jua beban sembilan bulan bunda tahankan,
karena cinta jua kupertaruhkan jiwa digerbang kematian,
dan yang berada dalam ridhoku adalah Ridhonya Tuhan.

Di setiap tempat dan saat,
kulantunkan doa agar engkau selamat,
arungi hidup sebagai hamba Tuhan yang taat,
dan selalu tabah hadapi penderitaan bagaimanapun berat.
Anakku,bunda berdoa agar engkau selalu dilindungi para malaikat.

Dalam cahaya matamu yang suci kutitipkan kasih yang tiada bertepi.
Kasih yang tak mampu disaiingi oleh luas dan dalamnya bahari,
Yang kelak akan kubawa sampai datangnya mati,
sebagai sebuah janji yang pasti,
anakku, permata hati.

Anakku,bila saatnya bunda tiada,
warisi cintaku dan tanam ia didalam dada,
ukirlah bagai kidung suci yang seirama dan senada,
Karena dengan itu, nuranimu akan hidup dan selalu ada.
anakku, ingatlah selalu hanya pada Ilahi tangamu tengadah.


Inderalaya
Lewat Tengah Malam
Al Faqir
Kuantar anak2ku ke pintu gerbang,
dengan doa dan kasih sayang,
walau badan penat karena berbagai halang rintang,
aku rela asal mereka tak pernah lupa sembahyang.

...Sering kali mereka lalai dan alpa,
melaksanakan tugas sebagai chalifah,
selalu dan selalu kuingatkan mereka,
sholat lima waktu adalah pelita.

Jaga selalu pelita jangan sampai padam,
sebelum badan babak belur dan lebam-lebam,
karena disiksa malaikat dikubur kelam,
anak2ku...jagalah iman jangan sampai tenggelam.

               Oleh
               Hamdi Akhsan.
                                               
I
Kekasih...
Betapa indahnya cahaya surga yang Engkau tampakkan didepan mataku,
diiringi indahnya senyum tujuh puluh bidadari yang menyambutku,
dan manisnya sungai-sungai susu bercampur madu,
pelepas segenap penat dan dahagaku.
jelang datangnya kematianku.

II
Tapi di hari ini..
Betapa banyak kudengar cibir terhadap para pejuang yang tak tersohor,
bumi Afghan diduduki untuk merampok minyak yang dibajui pemberantasan teror.
Setelah musuh tersenyum puas membunuh ratusan ribu rakyat Iraq dengan bom fosfor.
Sebuah konspirasi  akhir zaman para musuh dengan cara-cara yang sangat kotor.

Sedang di belahan bumi yang terbentang luas untuk para khalifah,
para hamba-Mu yang seiman hanya sibuk berkeluh- kesah,
terpaku dengan berita televisi yang telah direkayasa,
seolah para pembela negeri lah yang salah.
Musuhpun puas dan tertawa gembira,
karena kita berputus asa,
dan kalah.

III
Kekasih,
Dalam  kehinaan akhir zaman ini,
Para pencintamu tak lagi percaya pada kebenaran Ilahi.
Tentang sebuah transaksi yang bisa melepaskan mereka dari kepedihan insani,
dengan  menjual diri pada-Mu memenuhi  panggilan menuju  sebuah pengorbanan suci.

Tiada lagi Usamah dan Jakfar dengan kerinduan berlari menyongsong ratusan sayatan mata pedang.
Menggetarkan hati musuh-musuh Tuhan dengan takbir dan tasbih yang berkumandang,
Renggut sanggurdi kuda perang, walaupun ratusan ribu musuh menghadang.
Tinggallah mereka yang sibuk habiskan masa muda dengan berdendang,
dan tak peduli dengan kehinaan dan kehancuran yang datang.
Bagaikan buru nuri yang manjang didalam kandang.

IV
Kekasih...
Puluhan tahun daku mengembara ke berbagai negeri,
tuk buktikan kerinduan pada kesyahidan sebagai pengorbanan suci,
dihari ini,darah harumku mengalir dibawah senyuman malaikat yang memberkati,
dan dari ketinggian Jannatul Ma'wa dengan tak sabar telah menunggu tujupuluh bidadari.

Inilah bukti,
sebuah janji Ilahi yang yang tak pernah berubah dalam gempita zaman sejak datangnya sang Nabi.
Tentang pengorbanan suci yang hantarkan kejayaan Kordova dan Penaklukan Romawi.
Bahkan...Padamkan Api abadi di negeri Parsi.
sebuah keindahan dalam Ridho Ilahi.

V
Kekasih...
Kurindukan pena-pena para pemuda di zaman ini akan mengalir bagaikan sungai darah.
Yang mampu tegakkan kepala dengan gagah mengusung bendera,
bendera-Mu, yang dengannya tertoreh tinta emas sejarah,
dan cahaya-Mu pun bersemu merah.

Kurindukan mereka gigih menjadi pejuang-pejuang keluarga yang berpeluh dalam nafkah,
susuri hutan lebat dan lembah-lebah untuk mencetaknya menjadi sawah-sawah,
dan dari tanah yang subur tumbuh bulir-bulir padi yang membawa berkah.
agar tegak harga diri dari-Nya yang Maha Pemurah.

VI
Kurindukan semangat-semangat muda yang tekun menggali kebenaran Ilahi yang tersebunyi di alam,
Bagaikan bersinarnya Ibnu Sina, Ibnu Rusd, Imam Al-Ghazali di masa silam.
Bangun meratap pada-Mu di waktu malam,
dan tekun membuka kalam.

Aku  pun merindukan  mereka yang  menjadi saudagar yang berdiri atas iman.
Guru-guru yang tebarkan ilmu pada murid bagaikan mekarnya bunga ditaman.
Kalaulah itu ada, niscaya kejayaan perlahan akan pulih di penghujung zaman.
Bagaikan bau bunga mekar yang menyebarkan  harumnya  jauh dari halaman.

VII
Kekasih..,
nafasku perlahan melemah namun mengapa dada ini begitu lega,
Kulihat Lazuardi berwarna-warni melengkung di sudut cakrawala,
dan alam  bernyanyi  bagaikan  kidung Daud  yang  begitu indah,
iringi kepergianku tinggalkan pedihnya dunia,
kekasih, hamba pasrah.


Inderalaya, 11/1/11
Al Faqir

Hamdi Akhsan.
 (Pantun Nasehat, Pantun Pengumuman, Pantun Lelah,Pantun Hari Ibu,dll)

Binatangpun bisa berbagi kok

Oleh
Hamdi Akhsan

PANTUN PAGI.(15/12/2010)
Layulah sudah bunga ditaman,
kelopak jatuh tangkainya kering.
Dua senjata orang beriman,
sabar dan syukur jalan seiring.

Berjalan pagi ke bukit naga,
menjelang siang pulanglah balik.
Rezeki dicari iman dijaga,
itulah cara hidup yang baik.

hendak pagi,pagilah surya,
menjelang pagi fajar berlalu.
Hendak cari,carilah nafkah,
yang halal pasti cari dahulu.

PANTUN TENGAH MALAM (15/12/2010)

Hendak renang,renanglah pagi,
pastilah oto kan tergerakkan.
Hendak senang,senanglah diri,
pastilah kelak dipertanggungjawabkan.

Mentari redup cerah berakhir,
tak lama angin kencang bergulung.
Jalani hidup bagai musafir,
lama merantau rindukan kampung.

Orang ogan pergi berhuma,
batang ditebang semak ditebas,
semoga umur kan dapat rahmah,
ketika kelak berhenti nafas.

PANTUN PENGUMUMAN. (15/12-2010)
Serumpun sukat tumbuh ditaman,
kerdillah ia dibayang pohon.
Bermohon maaf kepada teman,
kiriman anda belum direspon.

Dihembus angin daun bergetar,
gugurlah ia menimpa jala.
Bukan tak ingin beri komentar,
tetapi kerja sedang menggila.

Hendak jual,juallah bakwan,
janganlah lupa hidangan bakmi.
Hendak kesal,kesallah kawan,
janganlah putus silaturahmi.

PANTUN KAMIS 10 MUHARRAM.(16/12-2010)
Buah kuwini diperam mengkal,
setelah masak manis berair.
Hari ini hari yang sakral,
jagalah lidah perbanyak zikir.

Buat tempoyak durian dikumpul,
tempoyak diawet banyak garamnya.
Perbanyak sholawat kepada Rasul,
sholawat juga untuk keluarganya.

Garam diberi pengganti ragi,
disimpan lama tiada berkarat.
Moga diberi bimbingan Ilahi,
Selamat dunia selamat akherat.

PANTUN JUMAT MALAM (17/12/2010)
Hendak gugur,gugurlah nangka,
jangan menghentak dahan keluih.
Hendak tidur,tidurlah mata,
lupakan sejenak jasad yang letih.

Randu dihuma rubuhlah sudah,
batang tendikat tinggallah satu.
Rindukan anak rindukan ibunda,
jadi semangat jadi pemicu.

Pohon mangga tiada sendahyang,
berat buahnya batangpun roboh.
Bermohon moga Allah kan sayang,
hidup mulia mati di Ridho.

PANTUN LELAH (18/12/2010)
Randu dihuma rubuhlah sudah,
batang tendikat tinggallah satu.
Rindukan anak rindukan ibunda,
jadi semangat jadi pemicu.

Pohon mangga tiada sendahyang,
berat buahnya batangpun roboh.
Bermohon moga Allah kan sayang,
hidup mulia mati di Ridho.

Hendak gugur,gugurlah nangka,
jangan menghentak dahan keluih.
Hendak tidur,tidurlah mata,
lupakan sejenak jasad yang letih.

PANTUN SABTU (18/12/2010).
Tahunpun sudah akan berganti,
musim penghujan belum berakhir.
Bermohon hidup kan dirahmati,
Dunia sampai yaumil akhir.

Tertimpa ara si batang duku,
dilanda badai bercampur guntur.
Tanpa terasa waktu berlalu,
usia tua kulit mengendur.

Hujan kemarau silih berganti,
musim hujan banjirpun datang.
selama hidup selalu terjadi.
susah senang dipergilirkan.

PANTUN-PANTUN MENJELANG HARI IBU.(19/12/2010)
Sungai Sekanak meluap sudah,
airpun masuk ke kediaman.
Kasih anak sepanjang galah,
kasih ibu sepanjang zaman.

Hujan melanda sawah binasa,
petani sedih padinya mati.
Doa ibunda jadi pusaka,
jalani hidup yang diberkati.

Hendak beli,belilah pauh,
mintalah selalu yang baik saja.
Hendak pergi,pergilah jauh,
mintalah selalu doa ibunda.

PANTUN PAGI (21/12-2010)
Daun pepaya rasanya pahit,
dipakai orang sebagai obat.
Hidup jalannya sehat dan sakit,
Bila bersalah banyak bertaubat.

Daun beluntas pengharum badan,
diracik orang menjadi urap.
Hidup yang pintas mari tinggalkan,
niscaya iman semakin mantap.

Hendak kunci,kuncilah peti,
tetap simpankan diwaktu malam.
Hendak cari,carilah rezeki,
tetap pisahkan yang halal haram.

PANTUN HARI IBU.(22/12/2010)
Hendak tumbang,tumbanglah ara,
jangan menimpa batang kemumu.
Hendak pulang, pulanglah segera,
ibunda rindu tatap wajahmu.

Kandang yang kuat memakai bilah,
tak hilang jatuh buah ditaman.
Kasih anak sepanjang galah,
kasih ibu sepanjang zaman.

Buah mangga cuma sedikit,
jatuh setumpus isinya tiga.
Doa ibunda membelah langit,
restu ibu berbuah surga.

PANTUN NASEHAT (23/12/2010)
Kepodang bernyanyi dikala petang,
membawa pulang setangkai padi.
Timbang dan pilih secara matang,
supaya sesal tidak terjadi.

Anak penjalu hinggap didahan,
mencari makan itu karena.
Fikir dahulu sebelum putuskan,
sesal kemudian tiada berguna.

Hendak lurus,luruslah angin,
tetap menabrak dinding batako.
Hendak putus,putuskan ingin,
tetaplah ingat dengan resiko.

Inderalaya, 3 Januari 2010
Al Faqir

Hamdi Akhsan
Welcome to My Blog

Labels

Popular Post

- Copyright © SASTRA - ILMU - HIKMAH -machsada-