Kemana kami harus mengadu?

Saturday, February 5, 2011
Posted by Marchsada



               Oleh
               Hamdi Akhsan

Zainal Abidin ben Ali.
Bekas Diktator Tunisia

I
Tuhan...
Dengarlah ratap seorang budak-Mu yang berteman sepi.
Tentang segala peristiwa di negeri para Nabi.
Tempat turunnya agama Ilahi.
Dan kitab-kitab suci.

Sampai hari ini ya Allah,
Bumi Palestina bersimbah darah.
Gaza menjadi sisa penjajahan terakhir di dunia.
Dan Pemimpin muslim di negeri tetangga sibuk berpesta pora.

II
Dalam kurun seribu tahun   cahaya- Mu terangi seluruh Jazirah,
Menjadi pemuka  peradaban  di bumi yang  mencerahkan jiwa.
Para pemimpinnya hidup dalam kemuliaan  dan penuh wibawa.
Serta  rakyatnya  beriman dan  melandasi hidup  dalam taqwa.

Tapi  kini, Para pemimpin  mereka kehilangan  kepercayaan diri.
Mereka sibuk  kumpulkan  harta  dan memuaskan  hasrat birahi.
Kejam dan tega  terhadap rakyat  dalam negeri mereka  sendiri.
Namun takut bagai anjing dikejar pemukul kepada zionis yahudi.

III
Semua terjadi, manakala  tuntunan suci-Mu telah  ditinggalkan.
Mereka sibukkan diri dengan harta dan kekuasaan.
Dibawah perlindungan dan tipu daya syaitan.
Yang membuat  amanah  terlalaikan.

Musuh-musuhpun bertepuk gembira.
Melihat Pemimpin muslim remehkan khilafah.
Yang selama ribuan tahun membuat umat berharga.
Dan menjadikan musuh tidak mampu bertindak semena-mena.

IV
Tuhan...
Dalam gelapnya peradaban dajjal yang begitu dipuja,
kepada siapa kami harus adukan segenap duka.
Para pemimpin sibuk pertahankan kuasa,
sedang rakyatnya banyak menderita.

Kapankah...?
Kapankah akan Engkau turunkan hamba-Mu yang penyayang.
Yang dalam jalankan amanah azab-Mu selalu terbayang.
Yang berantas maksiat dan anjurkan sembahyang.
Serta pada rakyatnya dia selalu sayang.

Tuhan...
Padamu jua  kami haturkan pinta,
Berilah kekuatan-Mu pada rakyat yang menderita.
Jadikan doa dan ratapan mereka sebaik-baik senjata.
Agar bertaubat pemimpin yang sesat atau turun takhta.

Tuhan...
Hanya pada-Mu kami haturkan tangis duka.

Inderalaya, 3/2/2011
Al Faqiir

Hamdi Akhsan

para pemimpin sudah berani berkhianat,
tertipu rayuan seytan laknat,
mengumpulkan harta jadi konglomerat,
tak peduli yg penting naik harkat n martabat.

...Sampai dtengah laut dah lupa darat,
ungkapan bagi mereka ibarat,
pemimpin menjadi lintah darat,
menguras tenaga n pikiran kaum melarat.

Sungguh...
Semua telah terjerembab,
trselubung dlm nafsu setan yg bejat,
mari sama2 kita munajat,
berdoa agar terbuka jalan hati trsesat.
 
Syair anda sungguh bermakna
Pikiran melayang jiwaku terpana
Tak mampu daku merangkai kata
Sebagai komentar yang kuanggap setara
...
dulu Israel berada di mesir
dalam tindasan lalu terusir
sungguh hatiku sangat kuatir
pemimpin mesir justru disetir

Dalam Al-qur’an pernah kubaca
Kaum yang di laknat sepanjang masa
itulah kaum keturunan yehuda
yang tak akan habis sampai kiamat tiba

yaa Allah, Engkau maha bijaksana
lindunggi kami agar tak resah
yaa Allah Engkau pasti punya rencana
Agar ummat mengambil hikmah

SYUHADA PUN BERGUGURAN

Posted by Marchsada



               Oleh
               Hamdi Akhsan

I
Dihari ini,
Para pencinta-Mu kembali syahid ditangan penguasa yang penuh angkara.
Darah mengalir tebarkan semerbak bunga  jelang dekatnya masa Khilafah.
Suburkan tumbuhnya  ribuan benih untuk datangnya para mujahid muda.
Yang  ikhlaskan diri  berlomba dengan sebuah transaksi  berhadiah  surga.

Di hari ini.
Amru bin Ash bagaikan datang bersama ribuan pasukan.
Tanpa rasa takut teriakkan segenap kepedihan dan kezaliman.
Walau telah beratus-ratus yang gugur bagaikan layunya bunga ditaman.
Mereka bagaikan layunya bunga yang kelak tumbuhkan biji bagi kekhalifahan.

Indah,jelang kematian sang bidadari datang menyambut dari jannatul Ma'wa.
Tiada sakaratul maut yang dirasakan para Mujahid saat terlepasnya jiwa.
Janji suci Ilahi  yang tak  pernah membuat sang hamba  kecewa.
Melesat ke taman-Nya bagai anak panah lepas dari gendewa.

II
Kelak...
Akan lahir para pembela-Mu yang banyak menangis dan sedikit tertawa.
Yang mampu iringi perjuangan suci Sang Mahdi tegakkan wibawa.
Yang tentu bukan lahir dari jiwa oleh nafsu mudah terbawa.
atau mereka yang putus asa dan dilanda rasa kecewa.

Dalam tangisan yang menggelegak.
Hamba bermohon pada-Mu dengan kepala tak mampu tegak.
Malu dengan generasiku yang biarkan saudaranya dihina tergeletak.
Bagaikan setumpuk semut yang tiada daya dipatuk oleh burung gagak.

III
Kekasih.
Dalam  perjalanan usia  hamba  yang kini  menjelang  pulang.
Telah ratusan tahun masa penghinaan untuk kami berbilang.
Jadikan generasi  penerus membawa  cahaya-Mu cemerlang.
Agar rahmat-Mu yang melingkupi  bumi ini tidak  menghilang.

Inderalaya, 4 Februari 2011
Al Faqiir

Hamdi Akhsan

               Oleh
               Hamdi Akhsan
Mujahidin Afghanistan

I
Di hari ini,
Kilatan pedang para pengembara surga nyaris tiada lagi dibumi,
Pekikan takbir telah berganti seruling musik yang mendayu merasuk hati.
Panglima perkasa seperti Salahuddin Al Ayubi terputus dan tiada regenerasi.
Tinggallah umat yang sepanjang lahir sampai mati sibuk demi pemenuhan syahwat materi.
Sungguh harga diri para pencinta Ilahi kini telah mati.

Terkadang, kegeraman bergejolak didalam dada,
Tatkala bom-bom berjatuhan di Iraq, afghanistan dan Ghaza,
Namun rasa itu hanya sejenak dan segera diganti khabar duniawi yang meriah,
Tinggallah mereka hidup dalam kehinaan dan teraniaya,
Sungguh izzah telah begitu lemah.

II
Sang Utusan Agung dimasa lalu telah ratapkan kesedihan hati,
Ia tak khawatirkan kemiskinan pada umat yang akan bergelimang materi.
Segala kekayaan berdatangan tatkala pusat-pusat kekayaan dunia telah dkuasai,
Tinggal kini kenangan tentang para pengembara yang bahagia sambut datangnya mati.

Sang utusan Agung dahulu telah berwasiat tentang datangnya  agama  secara aneh.
Dan kelak, segala yang telah diajarkan olehnya dianggap aneh bahkan remeh.
Yang dahulu dibangga kini dinista, yang dulu dilarang sekarang boleh.
Dan darah umatpun tiada berharga dimana-mana meleleh.

III
Kurindukan gagahnya pasukan Khalid bin Walid muncul bagai malaikat dari tengah gurun.
Tawarkan perdamaian atau biang segala ketakutan perang akan terhimpun.
Para penentang akan disapu bagaikan dahsyatnya badai taifun.
Sungguh tinta emas sejarah yang membuat diri tertegun.

Sedang di zamanku...
Para pemuda gagah seperti Ali dan Hamzah sibuk habiskan malam dengan tuangan arak.
Kepala dan tubuh mereka bergoyang ikuti alunan musik nan semarak.
Antara mereka dengan Tuhannya garis cinta telah retak,
dan pasukan Iblis pun tertawa terbahak-bahak.

IV
Wahn telan melanda,
Musuh pun datang bagai pasukan berkuda,
Menjajah peradaban dan merampas semua hasil bumi yang ada,
Sedang diri, hanya tersandera dalam tumpukan hutang demikian lama.
Sungguh sebuah kehinaan yang menyakitkan dada.

Semua karena wahn,
Keinginan hidup abadi dan ketakutan akan kematian.
Segala upaya dipakai untuk membuat kulit tubuh tetap rupawan.
Dan merasa bangga apabila dihadapan manusia bisa memikat dan tampil menawan.

V
Sedang jiwa,
Meronta karena miskin dan menderita.
Dirumah-rumah nan mewah kitab suci dibaca jadi langka.
setiap hari sibuk menghitung penambahan emas dan permata.
Dan tanpa sadar rambut memutih dan bersiap untuk menutup mata.

Kehinaan akan semakin dalam dengan tetap memelihara wahn,
Kehidupan akan jadi lemah tanpa pengorbanan pahlawan.
Terhadap kesewenangan ia sanggup untuk melawan.
Sehingga berharga di mata Tuhan.

VI
Aku rindu,
Para pemuda yang tegakkan kepala tunjukkan ilmu.
Atau mereka yang tekun jelajahi dunia taklukkan tebalnya buku.
Membaca ayat-ayat-Nya di semesta raya membuat orang takjub terpaku.
Sehingga kejayaan yang pernah ada tidak sebatas kisah yang ada di masa lalu.

Tidak mungkin negara-negara perkasa penguasa teknologi akan mau berbagi.
Bagaikan singa, tiada yang mau berbagi tempat dengan seekor sapi.
Karena kekuatan akan membuatnya memegang supremasi.
Dan bangsa lain bagai pengemis mohon dikasihani.

VII
Mengapa para putra pengembara surga tiada sadar,
Mereka berikan hanya budaya sampai yang di negerinya telah memudar.
Bantuan teknologi yang diberikan untuk uji coba sebelum dijual sebagai saudagar.
Wahai pemuda, mengapa engkau tidak isi dadamu dengan kekuatan iman para mujahid badar.

Tiada putra elang yang perkasa tanpa pendidikan yang kejam dan kuat dari sang induk.
Atau bagaikan anak singa gurun ditinggal induk tatkala ia masih ingin dipeluk.
Walau kasih sayangnya luar biasa, menangis ia dengan menunduk.
Agar sang putra Raja Gurun tidak lemah seperti pelanduk.

VIII
Anakku...
Jadilah engkau pengembara akherat seperti pendahulumu
Ukirlah tinta emas sejarah dizamanmu,
dan kami akan berdoa untukmu.
Agar kasih-Nya besertamu.


Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Syair Mujahid Gaza.

Posted by Marchsada


               (Antologi Syair-syairAkhir Zaman)

               Oleh
               Hamdi Akhsan

Para Daud Kecil gagah berani melawan kezaliman Thalut

I
Anakku,
Dengarlah olehmu kisah tentang Mujahid Gaza,
Yang selalu siap korbankan nyawa dan darah,
Yang selalu tegar dan pantang menyerah,
dan senantiasa bersandar kepada Allah.

Dari balik penjara besar dengan jutaan penghuni,
Muncullah jiwa-jiwa pencinta indahnya surgawi.
Jiwanya  rindukan balasan  sebuah transaksi,
yang telah dijanjikan-Nya dalam kitab suci.

II
anakku...
Di zaman ketika manusia bumi telah beradab.
Masih ada  penjajah zionis Israel  yang sangat biadab,
Membunuh wanita dan anak-anak sambil tertawa dan bersantap.
Hancurkan rumah-rumah yang jadikan mereka tidur dibawah langit tanpa atap.

Sungguh ironi, ketika tangan-tangan kecil lemparkan batu diiringi gema takbir,
Hadapi keperkasaanlapis baja  dan pesawat  tempur yang membordir,
Sedang saudara sedarahnya empat milyar bagaikan orang pandir.
Bahkan dengan tanpa sadar ada yang mencibir.
Gadis kecil Ghaza yang mencari ayah bunda

III
Anakku...
Tahukah engkau dengan banyaknya keajaiban yang terlihat.
Para mujahid bersumpah bahwa mereka dibela oleh para  malaikat.
Atau pesawat musuh yang datang dihadang tentara Allah berupa badai dan kilat.
Atau tanpa diketahui ternyata  pasukan zionis lari dengan membawa ketakutan yang sangat.
Sungguh bagi mereka pertolongan Ilahi ternyata sangat dekat.

Sedang Muslimah gaza,
Selalu bangga lahirkan para pencinta surga,
tangan-tangan kecil lontarkan batu menghantam lapis baja.
Yang membuat musuh tak bisa tidur nyenyak walau hanya sekejap saja.

IV
Dalam kepedihan, penderitaan dan kelaparan.
Setiap tahun bermunculan tunas-tunas baru Hafiz Alquran.
Mujahid mudah tumbuh menggantikan mereka yang berguguran.
Sungguh sebuah keajaiban yang mencengangkan para ahli peradaban.

Wajah-wajah pasrah yang penuh kekuatan iman nampak cantik dan gagah,
Seakan pada raut mereka terpancar terangnya cahaya.
Cahaya cinta dan kerinduan akan jannah.
Sebagai pemilik Izzah.

V
Anakku...
Sadarkah engkau, bahwa mereka adalah saudaramu.
Yang kepedihan dan penderitaan mereka menjadi tanggungjawabmu.
Yang kelak di Padang Mahsyar akan ditanya oleh-Nya apa pembelaanmu.
Apakah perbuatan nyata yang telah dilakukan olehmu.

Ingatkan engkau  akhir  tahun  duaribu sembilan yang silam.
Ketika bom-bom biadab  zionis bagaikan hujan menghantam.
Hancurkan rumah-rumah dan membuat lubang-lubang dalam.
Serta jadikan langit penuh kepulan  radiasi yang  menghitam.
Sungguh biadab, beraninya dengan anak kecil
VI
Betapa dalam kepedihan dan airmata mengalir,
Saksikan wanita dan anak-anak bersimbah darah di bombardir,
Dan merekapun menghadap Ilahi dengan senyum sebagai martir.
Ternyata, mereka yang syahid hampir seimbang dengan yang lahir.
Sungguh sebuah keajaiban Ilahi dengan nyata telah terukir.

Belumlah lagi adanya pengkhianat dari saudara seagama.
Yang beralas darah duduk semeja dengan musuh untuk makan bersama.
Padahal tahu perundingan hanyalah taktik musuh mengulur waktu percuma.
Yang penggkhianatan itu selalu diulang-ulang kembali sejak lama.

VII
Anakku...
Bersyukurlah dirimu hidup di negeri yang subur,
Namun jangan pernah tinggalkan kebiasaan untuk bersyukur,
Kalaulah atas nikmatnya bangsamu malah semakin kufur.
Ingatlah kelak kalian akan hancur.
Senjata yang diberi bahan fosfor putih peluluh tulang
Jangan menunggu lagi,
singsingkan lengan untuk bekerja keras petang dan pagi.
Jauhi berhura-hura dengan segala kesenangan yang akan membuatmu rugi.
Karena ketinggian derajat tak didapat dengan sibuk memetik kecapi.
Anakku, jangan sampai kasih-Nya pergi.

VIII
Anakku...
Hariku sudah menjelang sore dan masaku telah berlalu,
Jadilah engkau pencinta surga seperti para pendahulu,
Biasakan diri untuk bangun bermunajad di malam dalu.
Agar kelak di Sorga Allah engkau akan jadi penghulu.

Anakku,
itulah yang kami rindu.


Al Faqiir
Hamdi Akhsan



               Oleh
               Hamdi Akhsan.

Jembatan Ampera Ikon Kota Palembang

Pengantar
Even internasional yang kolosal dalam waktu dekat di Sumatera Selatan adalah Seagames dan even nasionalnya adalah Jambore Nasional di Teluk Gelam (Kabupaten OKI). Selain itu banyak pertanyaan tentang Palembang dari berbagai pihak. Syair sederhana ini mencoba memberikan gambaran tentang Palembang, walaupun banyak kekurangan semoga berguna untuk mereka yang mencari informasi tentang Palembang atau akan berkunjung ke Palembang. Terima Kasih!

I
Inilah syair tentang  Palembang,
ribuan tahun kota berkembang,
dikenal  negeri para  pedagang,
kini  menjadi  kota terpandang.

Diyakini  dulu  pusat Sriwijaya,
negara bahari pernah berjaya,
SwarnaBhumi jadi gantinya.
bumi emas makna katanya.

Di sungai banyak pencari emas,
dilimbang pasir sambil diawas,
didapat emas hatinya puas,
jadilah Palembang dikenal luas*.

II
Pernah ada Kesultanan berjaya,
Palembang Darussalam pasti namanya,
Simbur cahaya kitab rakyatnya,
dari agama sumber hukumnya.

Raden Fatah Sultan di Demak,
Dari Palembang ia menapak,
didukung walisongo ia serentak,
jadilah ia Sultan yang bijak.
Sultan Mahmud Badaruddin II
Terkenal seorang Pahlawan Gagah,
Mahmud Badaruddin II pasti namanya,
Ternate tempat pengasingannya,
disana pula tempat kuburnya.

III
Tempat wisata banyak tersebar,
setiap tahun berlomba bidar,
wisata kapal putri kembang dadar,
atau jalan-jalan sore untuk sekedar.
Benteng Kuto Besak
Kutobesak namanya benteng,
dekat ampera ia mentereng,
di Pulau kemarau ada kelenteng,
menyolok merah atapnya genteng.
Pulau Kemarau

Makam Sultan kawah tekurep,
lokasinya dekat kampung arab,
Doa dilantun berkah diharap,
supaya makmur palembang tetap.

IV
Terkenal nama bukit siguntang,
dalam legenda Masa Sang Hiyang,
Berasal disana terus cemerlang,
Sriwijaya lama dulu berkembang.
Musium Balaputra Dewa

Jangan lupa ke musiumnya,
Balaputra Dewa nama lengkapnya,
dekat ampera lokasi tepatnya,
segala peninggalan ada didalamnya.

Diseberang benteng rumah kapitan,
tinggalandahulu di pecinaan,
berbaur mereka para peranakan,
bersatu damai tuk penghidupan.

V
Terkenal pula makanan khasnya,
ikan menjadi bahan dasarnya,
pempek palembang tentu barangnya,
enak dimakan dengan cukanya.
Pempek

Selain pempek dikenal tekwan,
bahan dasarnya bersumber ikan,
ditambah timun dicencang-cencang,
kuahnya enak tuk dihirupkan.

Selain dibuat pempek dan tekwan,
model juga tak kalah tuan,
dicampur kuah dengan cendawan,
makanan enak sungguh menawan.

VI
Janganlah lupa kerajinannya,
kain Songket itu namanya,
murah dan mahal macam harganya,
tergantung dompet sang pembelinya.

Kain songket jadi perlambang,
dibawa tujuh saat meminang,
dipakai resepsi hati kan senang,
momen yang indah terus dikenang.

Kalaulah anda ingin mencari,
ke Tangga buntung orang kan pergi,
atau sumbernya daerah OI,
jadikan kenangan ke Palembang dari.

VII
Wah, jangan pula lupakan pindang,
enak dimakan sedap dipandang,
ada yang langsung ada dipanggang
itulah ciri pindang palembang.

Ikan asap juga disuka,
di Musi dua dagang dibuka,
bikin sendiri tentu mereka,
segar terasa saat dibuka.

Ada pula pindang tempoyak,
durian diawet bentuknya loyak,
dihirup enak dimakan layak,
tradisi buatan para khalayak.

VIII
Itulah tradisi kota Palembang,
datanglah anda sambil bertandang,
dimana-mana bisa dipandang,
banyak tersebar sawah dan ladang.

Kalau ke hulu banyak buahnya,
terkenal manis duku komeringnya,
durian hutan sungguh nikmatnya,
dibuat dodol lempok namanya.

Belumlah lagi ikan disungai,
belida dicari khalayak ramai,
dibuat empek-empek sungguh aduhai,
nikmat terasa sampai terbuai.

IX
Keluar palembang banyak dilihat,
danau Ranau tempat Istirahat,
Bukit Telunjuk ada di Lahat,
Gunung demponya di arah barat.

Ada pula air terjunnya,
di Muara enim tempat pastinya,
di Ulu Ogan gemuhak namanya,
indah sungguh pemandangannya.

Goa putri ada di OKU,
Bukit petir di MURA Ulu
Rumah Knockdown di Tanjung Batu,
di Pedalaman tersisa kubu.

X
Di Linggau ada bukit sulap,
petir menyambar mengkilap-kilap,
Bendung Watervang tempat yang alap,
untuk bersenang lemaskan syaraf.

Di OKU timur janganlah lupa,
ada namanya bendung perjaya,
ribuan hektar airi sawah,
orangpun kesana tuk cuci mata.

Kebun teh bagus di Pagar alam,
terasa dingin di waktu malam,
dihari pagi mentari salam,
menjelang sore indah temaram.

XI
Ini sekelumit tentang Palembang,
Sumatera Selatan terus berkembang,
jadi Provinsi disegani orang,
apalah lagi masa sekarang.

Menjelang even yang besar tiba,
marilah kita saling menjaga,
tamu datang disambut ramah,
supaya harum dimana-mana.

Maafkan saya sudah berani,
walau ilmu belum mumpuni.
Menulis Madah sebagai seni,
Syairku habis sampai disini,

Inderalaya, 2011
Al Faqiir

Hamdi Akhsan

Kalau tidur janganlah ngigau
Biki nkaget teman seatap
Kalau bapak mampi ke Linggau
Ada yang namanya Bukit Sulap

...Linggau sekarang menjadi Kota
Banyak dikunjungi para pedagang
Disana ada tempat wisata
Namanya bendungan watervang


Alangkah masam buah pelam
dipetik dari kebun siajun
Kalau anda kedesa Temam
Disana terdapat air terjun

...Kalau ujian harus lulus
itu nasehat Bu guru sri
Mari singgah ke Ulu Malus
Alamnya asli dan sangat asri


Baturaja ada Lesung Bintang nya
...Limpahan Durian di Bukit Pelawi
Pindang Seluang tak kalah nikmatnya
Kotanya terus berbenah diri


inilah syair tentang wisata,...
palembang itu tempat negrinya
kalau daku hidupnya kaya
akan ku singgahi semua tempatnya
               Oleh
               Hamdi Akhsan

Jembatan Ampera menghubungkan dua sisi sungai Musi di Kota Palembang

PENGANTAR
Propinsi Sumatra Selatan (Sumsel) dialiri banyak sungai besar. Salah satunya, sungai Musi yang berhulu di gugusan Bukit Barisan dan bermuara di laut tepian pantai Timur Sumatra ini. Karena terdapat 8 sungai besar yang menjadi anak sungai Musi, maka Sumsel di sebut juga Tanah Batanghari Sembilan atau Tanah Sembilan Sungai.
Kesembilan sungai yang termasuk batanghari sembilan dari hulu hingga ke hilir adalah: 1. Sungai Musi, 2. Sungai Batanghari Leko, 3. Sungai Lalan. 4. Sungai Lakitan 5. Sungai Kelingi, 6. Sungai Rawas, 7. Sungai Lematang, 8. Sungai Ogan, dan 9. Sungai Komering.
Berikut syair batanghari sembilan. Semoga menjadi kenangan untuk generasi penerus kelak manakala sungai-sungai yang ada telah kering dan tidak lagi menjadi inspirasi budaya masyarakat Sumatera Selatan.

I
Syair berawal dengan Bismillah,
berkisah tentang ciptaan Allah,
Karena sungai tanah terbelah,
airpun mengalir lalui celah.

Sungai disini banyak gunanya,
untuk banyak keperluannya,
dari bangun sampai tidurnya,
tak lepas sungai dari hidupnya.

Ratusan kilo panjangnya sungai,
Awalnya gunung akhirnya pantai,
akhirnya bertemu di muara landai,
nama yang awal akan selesai.

II
Beribu tahun sungai bersaksi,
manusia hidup kemudian mati,
tempat pedagang berjual beli,
tempat orang  bertransportasi.

bagi penduduk disana mandi,
dipakai pula untuk mencuci,
bersiram-siram putra dan putri,
ikan mudikpun menari-nari.

Sawah yang subur kan diairi,
tanaman hijau berseri-seri,
rahmat Ilahi Maha Pemberi,
untuk penduduk seluruh negeri.

III
Airnya jernih sejuk mengalir,
dari yang hulu sampai ke hilir,
bunyi gemericik bagaikan zikir,
indah menawan bagaikan syair.

Ditanah tinggi sungai bermula,
Rimba yang lebat sumber airnya,
jernih mengalir pasti segarnyanya,
diminum langsung sehat orangnya.

Air menjadi sumbernya hidup,
sepanjang sungai tak pernah redup,
orang berdagang diperahu sungkup,
dari pagi sampai mentari redup.

III
Di nama sungai melekat suku,
ogan dan komering bagian hulu
ratusan tahun tinggal disitu,
hormati sungai hidup menyatu.

Ke ladang orang di subuh dalu,
lewati sungai dengan perahu,
susuri air hindarkan batu,
berharap rezeki sudahlah tentu.

Sungai ogan memelah OKU,
Muaraenimpun ada dilalu,
di Ogan Ilir pecah menyatu,
Bermuara di musi sejak dahulu.

IV
Demikian juga di rawas ulu,
tanahnya tinggi sungai berbatu,
airnya dingin jernih bermutu,
membuat sehat sudahlah tentu.

Penduduk hulu banyak bertani,
pergi ke huma setiap hari,
tatkala pulang kayuh kemudi,
terkadang sambil ikan dicari.

Sungai Rawas bergabung musi,
Jadi kabupaten nama lokasi,
berbatas Bengkulu dibarat sisi,
ke MUBA mengalir sepanjang hari.

Sungai Lakitan ada di Mura,
Sungai Kelingi juga disana,
sebagai nadi masyarakatnya,
untuk jalani aktivitasnya.

IV
Batanghari Leko ada di MUBA,
mendekat jambi arah wilayah,
Airnya mengandung minyak tanah,
mengkilap-kilap kena cahaya.

Di MUBA sungai tidaklah satu,
banyak berguna sudahlah tentu,
besar dan dalam juga berbatu,
seperti Sungai lalan ada disitu.

Alanya subur buminya kaya,
sawitnya banyak karet seraya,
sekarang jadi daerah yang jaya,
juga terpandang serta mulia.

V
Lahat dan enim mengalir sungai,
Lematang ia disebut ramai,
ikannya sungguh enak digulai,
laguinya indah cantik membelai.

Sungai Lematang mengalir jernih,
sampai sekarang segarnya masih,
untuk dimasak atau berbersih,
Berperahu ke pedalaman Prabumulih.

Semua berakhir di Sungai Musi,
lebarnya sungguh kedua sisi,
Sejak dulu tempat transportasi,
untuk manusia dan jual beli.

VI
sungai musi sungai yang besar,
di tepi sungai banyaklah pasar,
tempat berkumpul para saudagar,
melalui darat atau berlayar.

Musi bermuara ke selat bangka,
bercabang dulu kemana suka,
dibagian hilir terdapat palka,
bengkel dan tempat kapal dibuka.

Inilah syair batanghari sembilan,
dibuat untuk sanak kenalan,
disusun sebentar diakhir bulan.
semoga berguna untuk tinggalan.

Inderalaya, 30/1/2011
Al Faqiir

Hamdi Akhsan
sungai di hulu, airnya jernih dan sehat
 
Jikalah rimba habis ditebang,
kala kemarau sungaipun gersang,
kala penghujan sungai meradang,
segala terlewat habis diterjang..

...Marilah jaga si rimba hutan,
jgn ditebang jati dan rotan,
agar di sungai hiduplah ikan,
untuk dijual juga dimakan..
 
Sungai musi membelah kota palembang...
Dihubungi oleh jembatan ampera hilir dan hulu
Hati ku rindu ingin kembali pulang
tempatku pernah menuntut ilmu



                Oleh
                Hamdi Akhsan

Apalah hebatnya lagi kalau sudah begini

I
Dengan Bismillah syair kutulis,
wasiat mengalir setiap baris,
harapan mulia akan kulukis.
curahan tulus bercampur tangis.

Kutulis ini untuk pemimpin,
rakyat negeri banyak yang miskin,
doanya didengar pastilah yakin,
sedang yang kaya bertambah makin.

Walaupun diriku tiada berarti,
rendahkan hatimu tuk dinasehati,
kelak berguna di hari nanti,
untuk hidupmu setelah mati.

II
Kuyakin ingatanmu masihlah segar,
kisah yang baik pernah didengar,
pemimpin adil rahmat memancar,
pemimpin zalim jatuh menggelepar.

Contoh yang baik adalah umar,
adil dan tegas beriring sabar,
sangat sederhana dalam berujar,
tiada mengeluh selalu tegar.

Terhadap pejabat sangatlah sangar,
bila memutus salah menakar,
membuat mereka sampai gemetar,
bagaikan takut akan dibakar.

III
Tetapi semua patuh padanya,
karena satu kata perbuatannya,
tiada mengumpul tuk keluarganya,
atau mengangkat sanak saudaranya.

Sangat sedikit tidur malamnya,
dihadapan Ilahi pecah tangisannya,
meratap takuti berat siksa-Nya,
dan mengharapkan rahmat dari-Nya.

Sanak keluarga dikumpulkannya,
Untuk tak pakai kedudukannya,
atau gunakan nama besarnya,
sebagaimana pesan Rasul-Nya.

IV
Ingat dahulu masa kecilmu,
kuajar engkau iman dan ilmu,
walaupun kini hebat dirimu,
janganlah lupa ke akheratmu.

Jabatan itu hanya titipan,
sebelum mati telah digantikan,
kalau amanah tak ditegakkan,
setelah lepas kau dipusingkan.

Berhati-hati para pembisik,
hatinya kelak pasti berbalik,
ketika enak tidak berisik,
setelah jatuh memekik-mekik.

V
Harta segunung jangan tumpukkan,
kelak dikubur engkau tinggalkan,
mereka yang hidup kan menghabiskan,
tinggal dirimu tangungjawabkan.

Di Padang Mahsyar engkau melata,
di tuntut rakyat puluhan juta,
kian kemari matapun buta,
tiada guna dulunya harta.

Kalau dirimu ingin selamat,
segerakan diri untuk bertaubat,
agar tak hancur amal akherat,
sebelum terlanjur datangnya sekarat.

VI
Diriku bukan orang yang pintar,
namun sayangku masih menggetar,
harapkan amanahmu tidak terlantar,
jauhkan cambuk malaikat yang menggelegar.

Anak dan istri bukan menolong,
mereka sendiripun sibuk melolong,
disate malaikat badannya bolong,
ditendang hancur sampai ke kolong.

Percaya engkau nasehat ini,
menantang Tuhan jangan berani,
tak guna ribuan pengawal gagah berani,
kala usus terburai kayak tembuni.

VII
Mengapa siksamu sangatlah berat,
karena kuasamu sangatlah kuat,
koruptor yang ada tinggal kau jerat,
mudah pula bantu yang sekarat.

Kalau semua tak kau lakukan,
kerjamu sibuk berjalan-jalan,
pajak rakyatpun engkau habiskan,
tunggullah balasan dalam kuburan.

Belumlah lama engkau dikubur,
daging dan tulang pisah bertabur,
cacing yang datang bukan menghibur,
hancurkan dagingmu menjadi bubur.

VIII
Belum pengantar jasadmu pergi,
terhina sudah hebatnya diri,
tanah diatas diinjak kaki,
ditambah tutup yang berat lagi.

Dirimu kelak tinggal sendiri,
malaikat membawa cambuk berduri,
dihantam engkau saat berdiri,
terus-menerus tersayat nyeri.

Daging-dagingmu bagai tersayat,
mata melotot badan menggeliat,
rambut memutih sakitnya dahsyat,
ya Allah berilah waktu untuk bertaubat.

IX
Belumlah lagi ahli warismu,
berebut dia gudang hartamu,
segala cara diazab dirimu,
karena harta bukan milikmu.

Hidup di dunia hanya sebentar,
betapa rugi akherat terlantar,
karena uang jutaan lembar,
ataupun emas bertikar-tikar.

Diakhir syair kumohon maaf,
kepada Allah ampun kuhadap,
kuharap engkau segera bertaubat,
agar akherat bisa selamat.

Inderalaya, 28/1/2011
Al Faqiir

Hamdi Akhsan

memang bagus syair p.hamdi,
bila tk baca pstilach rugi.
untuk pljaran hidup ini,
atau skedar pnghibur hati.


terina kasih buat nasehat
moga ini jadi manfaat
menjadi bimbingan tuk buat taat
juga hindarkan kerja maksiat

Semilir angin di pegunungan.
Kicauan burung bersahutan.
Syair pak Hamdi akhsan,
Mau lie simpan tuk menambah keimanan.

bagus kalau nak pergi ke kota lahat
pergi ke sana dengan mobil kuda
bagus kalau kita mempedomani nasehat
akan lebih baik jika kita ajak yang lain juga

...bukan lahat sembarang lahat
kotanya indah tak jauh dari endikat
bukan nasehat sembarang nasehat
nasehat untuk jadikan hidup berkat

jadi ipin hidup tak perlu susah
karena ipin dari kuala lumpur
jadi pemimpin jangan tak amanah
karena akan tersiksa di dalam kubur
Welcome to My Blog

Popular Post

- Copyright © SASTRA - ILMU - HIKMAH -machsada-