Posted by : MARCHSADA Friday, October 29, 2010



Oleh
Hamdi Akhsan


XV
Asma Al Qahhaar bermakna paksa,
tiada terbatas apapun bisa,
dipindah gunung bagaikan busa,
alam semesta bisa binasa.

Apapun bisa Dia kalahkan,
segala makhluk disepelekan,
terjadi apapun Ia sukakan,
tak berdaya makhluk mempertahankan.

Marilah saudara banyak istighfar,
agar kasihnya terbuka lebar,
biar tercipta jiwa yang sabar,
diakhir nanti baiklah kabar.

XVI
Sampailah asma ke enam belas,
Al Wahhaab namanya sudahlah jelas,
pemberi karunia tak minta balas,
meminta padanya hendaklah ikhlas.

Hidayah Allah adalah karunia,
berharga mahal lebih dari dunia,
sebagai hamba jangan aniaya,
agar selalu diberi Inayah-Nya.

Ingatlah kita hai saudaraku,
kepada Allah kita menyeru,
jangan tergantung pada yang baharu,
supaya syaitan jadi seteru.

XVII
Ke tujuh belas itu Ar Razzaaq,
Pemberi rezeki yang maha mutlak,
bagi setiap jantung berdetak,
ada bagian sudah mustahak.

Carilah rezeki Allah dibumi,
hasil dan cara halalnya pasti,
biar pemberian kan dirahmati,
jadi penolong setelah mati.

Atas rezeki yang diberikan,
dibayar zakat jangan lupakan,
sedekah wajib mari pastikan,
ganjaran baik Allah balaskan.

XVIII
Al-Fattaah itu pembuka rahmat,
nama ke delapan belas jalan selamat,
pembawa izzah penolong umat,
seluruh kita kan dapat rahmat.

Umat dahulu selalu menang,
jayanya Islam patut dikenang,
di seluruh jazirah umatpun senang,
negeripun damai hiduppun tenang.

Habislah masa ketika jaya,
dimana-mana teraniaya,
bagaikan bangkai dimulut buaya,
dihina musuh tiada berdaya.

XIX

Asma ke sembilan belas itu Al Aliim,
tahu segala apa yang zalim,
merekam pula laku yang alim,
senang kepada para muallim.

Ilmu sempurna tiada terbatas,
hamba yang pintar berlaku pantas,
janganlah pula berjalan pintas,
mencari ilmu yang tidak jelas.

Kalau berilmu rendahkan hati,
akhlaq tabiin hendaklah titi,
tuntut selalu jangan berhenti,
dari buayan hingga ke mati.

XX
Keduapuluh itu Al Qaabidh,
bermakna asma berarti sempit,
digenggam rezeki jadi sedikit,
agar terjauh sifat yang pelit.

Kalaulah rezeki Allah sempitkan,
kerja yang giat mari lakukan,
tambah ibadah dilaksanakan,
zakat shodaqoh mari tunaikan.

Orang bertaqwa telah diseru,
nafkahkan rezeki harus terburu,
agar diganti dengan yang baru,
niscaya jumlahnya bikin terharu.

XXI
Duapuluh satu asma Al Baasith,
terbalik dengan asma Al Qoobidh,
lapangkan rezeki dari yang sempit,
berupa benda ataupun duit.

Wahai sahabat yang sedang lapang,
orang yang lapar mari diundang,
nafkahkan rezeki bertaraf sedang,
jangan berlebih jangan terkurang.

Jadilah hamba Allah dermawan,
memberi pada kawan dan lawan,
terpancar pahala yang berkilauan,
karena ikhlas dihati tuan.

XXII
Yang menurunkan itu Al Khoofidh,
yang sudah tinggi rendah sedikit,
yang lama sehat kadangpun sakit,
seperti gunung menjadi bukit.

Kalaulah hamba selalu senang,
akan terlupa sulit terkenang,
karunia Allah yang bikin menang,
dikira diri tinggi melayang.

Ingatlah pula hai saudaraku,
banyak saudara yang kurang mampu,
beri sedikit bagian tertentu,
niscaya mereka akan terharu.

XXIII
Asma yang indah ke duapuluh tiga,
tinggikan sifat makhluk terhingga,
orang yang hina kan naik tangga,
mereka yang malu kan jadi bangga.

Allah berfirman dalam Alquran,
Dia yang mutlak atur putaran,
dulu yang hina kan ditinggikan,
mereka yang tinggi kan diturunkan.

Naik dan turun silih berganti,
Kuasa kan habis tak disadari,
mereka yang muda naik posisi,
orang yang tua menuju mati.

XXIV
Asma Al Muizz memuliakan,
mereka yang susah kan disenangkan,
mereka yang miskin kan dikayakan,
mereka yang sempit kan dilapangkan.

Marilah bersama saling ingatkan,
hidup di dunia dipergilirkan,
harta dan pangkat kan ditinggalkan,
amal yang sholeh kan dibekalkan.

Kelak si hamba akan ditanya,
kemana harta dibuat guna,
kemana ilmu sampai amalnya,
kemana waktu dimanfaatkannya.

XXV
Asma ke duapuluh lima itu Al Mudzil,
hinakan mereka yang suka jahil,
mereka yang mulia menjadi dekil,
orang yang hebat menjadi kecil.

Kepada manusia yang sungguh fana,
ingat selalu kepada asma,
hidup di dunia tiada sempurna,
bahagia kekal di alam sana.

Berhati-hati wahai saudara,
jangan menunggu hina mendera,
walaupun tangis sampai berdarah,
takdir yang pasti sudah tertera.

XXVI
Keduapuluh enam sifat As Samii'
maha mendengar setiap detik,
mengetahui dia segala yang pelik,
tiada terlalai tiada tercelik.

Mendengar ia rintihan doa,
dimalam sunyi tangan tengadah,
walau berbisik walau berdesah,
dicatat semua apa dipinta.

Wahai sahabat sesama muslim,
marilah kita jadi mualim,
belajar Islam jangan semusim,
sampai berpisah ruh dan jisim.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

- Copyright © SASTRA - ILMU - HIKMAH -machsada-