Senin, 01 November 2010

SYAIR RAMADHAN.

Posted by SASTRA, ILMU dan HIKMAH 00.58, under | No comments




Oleh 
Hamdi Akhsan,

Ditulis selama 3 hari 16-18 Ramadhan 1431 H, dari hamba Allah semoga manfaat untuk semua.

PENDAHULUAN.
Telah tersebut dalam alquran,
Panggilan bagi orang beriman,
Baik laki-laki atau perempuan.
Hendaklah puasa bulan Ramadhan,

Berpuasalah dengan berniat,
Agar amalnya bisa melekat,
Tuk bekal hidup dunia akherat,
Agar keduanya bisa selamat.

Awali puasa dengan sahur,
Itulah anjuran hadits yang mashur,
Kalau tak sahur karena terlanjur,
Puasa tetap tidak kan gugur.

Sampailah kita kepada imsak,
Hendaklah tahan nafsu tersesak,
Haus dan lapar jangan dirusak,
Dengan perbuatan dan tingkah lasak.

Bersegeralah berbuka puasa,
Walau seteguk yang penting basah,
Minumlah manis seperti biasa,
Supaya tenaga kembali terasa.

Syair Ramadhan-1.
Ramadhan pertama setelah maghrib,
Tegakkan tarawih walau tak wajib,
Ajaklah anak ke mesjid tertib,
Sebelum isya sholat rawatib.

Setelah isya sholat tarawih,
Jadikan imam orang yang fasih,
Supaya jamaah tidaklah risih,
Orang tak faham tahu menyisih.

Habis tarawih bacalah quran,
Pembersih hati penambah iman,
Supaya tidak terpukai syaitan,
Yang terus menggoda sepanjang zaman.

Syair Ramadhan-2.
Hari bermula ramadhan kedua,
Diawali niat beserta doa,
Agar selamat hidup di dunia,
Dapat ampunan akherat pula.

Disiang hari tahanlah lidah,
Agar tak lebih jika berkata,
Tak pula dusta dengan amanah,
Tak juga banyak buat naminah.(naminah=adu domba)

Tahanlah lapar serta dahaga,
Syahwatpun harus juga dijaga,
Amarah muncul harus ditegah,
Semua akan berbuah surga.

Syair Ramadhan-3.
Hari ketiga kan terbiasa,
Habisnya siang hampirlah masa,
Hatipun tidak terlalu susah,
Sampailah buka tidak terasa.

Cuaca sering berubah-ubah,
Kadang mendung terkadang cerah,
Kalaulah mendung dingin terasa,
Kalaupun panas tak putus asa.

Anak dirumah ajarlah saum,
Bujuklah ia agar tak minum,
Beri ganjaran bikin tersenyum,
Supaya tidak banyak melamun.

Syair Ramadhan-4.
Sampailah juga hari keempat,
Jagalah lidah jangan mengumpat,
Terus berzikir selama sempat,
Sepanjang waktu segala tempat.

Godaan akan terus menghampir,
Terhadap harta janganlah kikir,
Karena kelak ramadhan berakhir,
Menyesal juga akan terfikir.

Membaca quran tak apa lambat,
Kalaulah lancar sudah juz empat,
Yang penting tajwid dipakai cermat,
Agar maknanya tidak tersesat.

Syair Ramadhan-5.
Ramadhan sudah hari ke lima,
Berbuka sunah memakan kurma,
Kumpul keluarga didalam rumah,
Lahirkan rukun ciptakan rahmah.

Kalaulah mampu banyak sedekah,
Infakkan harta serela suka,
Insya allah akan menambah berkah,
Membuat allah menjadi suka.

Berbuka sunah makan yang manis,
Walaupun hanya buah seiris,
Yang penting dahaga dan lapar habis,
Amal yang ada tiada terkikis.

Syair Ramadhan-6.
Sampailah Ramadhan hari ke enam,
Terhitung saat mentari terbenam,
Dapatlah pahala amal tertanam,
Agar terlepas neraka jahanam.

Amal yang baik akan dibalas,
Dunia akherat akan membekas,
Lakukan semua secara ikhlas,
Menghadap Allah bak sehelai kertas.

Syaitan dan iblis akan diikat,
Semua mukmin diawasi malaikat,
Jadikan puasa memberi berkat,
Supaya amal terus melekat.

Syair Ramadhan-7.
Tak terasa puasa sudah ketujuh,
Perempat pertama telah ditempuh,
Ibarat bibit yang sedang tumbuh,
Jagalah ia supaya utuh.

Puasa itu membuat sehat,
Lambung dan hati beristirahat,
Setelah ramadhan ia kan kuat,
Menghalau penyakit dan racun jahat.

Tubuh yang gemuk akan berkurang,
Murahnya obat membuat girang,
Tidak seperti orang sekarang,
Kurangi berat seperti perang.

Syair Ramadhan-8.
Ramadhan sampai hari ke delapan,
Berbuncah rasa iring harapan,
Rahmat ilahi ada didepan,
Beriring doa dalam ratapan.

Banyak berdoa itu mulia,
Allah kabulkan dengan sedia,
Berdoa jangan yang sia-sia,
Ataupun tak baik tuk manusia.

Ramadhan penuh kumpulan rahmat,
Ambilah ia sekuat dapat,
Supaya kelak menjadi kuat,
Terlepas goda syaitan yang laknat.

Syair Ramadhan-9.
Puasa ke sembilan sudahlah datang,
Berakhir ia setelah petang,
Saat berbuka hatipun senang,
Seperti orang datang diundang.

Haus dan lapar memberi ajar,
Untuk yang miskin adalah wajar,
Orang yang kaya akan berujar,
Didepan Allah kita sejajar.

Kalaulah tahu beratnya lapar,
Makanan lebih jangan dilempar,
Harta yang banyak jangan diumbar,
Hematlah ia sebelum sukar.

Syair Ramadhan-10.
Sampailah Ramadhan hari ke sepuluh,
Sepertiganya sudah ditempuh,
Berharap sangat dosa kan luluh,
Iman kan terang bagaikan suluh.

Hari bertambah musim berganti,
Malam rahmat telah dititi,
Masa ampunan sudah menanti,
Tambah ibadah lebih teliti.

Syair Ramadhan-11.
Ramadhan sudah hari ke sebelas,
Jalani semua buatlah ikhlas,
Semua kelak pasti berbalas,
Didalam kitab sudahlah jelas.

Paruh kedua masa berlatih,
Tak hirau lapar dan hirau letih,
Walaupun berjalan sudah tertatih,
Puasa sampai tulang memutih.

Didalam hadits sudahlah jelas,
Untuk ilahi puasa yang ikhlas,
Tiada ibadah sama berbalas.
Dosa diampun amal dibalas.

Syair Ramadhan-12.
Hari ke duabelas datanglah sudah,
Berbuka dengan sepiring juadah,
Habis berbuka tangan ditadah,
Agar keluarga selalu mawaddah.

Kalaulah sempat siapkan takjil,
Boleh diantar atau diambil,
Berpuasa dengan beramal sambil,
Tutupi amal yang mungkin gumpil.

Tak apa takjil yang sederhana,
Yang penting ikhlas agar bermakna,
Ganjaran nanti di alam sana,
Kelak kan takjud dan terpesona.

Syair Ramadhan-13.
Puasa sudah hari ke tiga belas,
Berbuka dengan air segelas,
Tadahkan tangan doa memelas,
Jauhkan hamba berbuat culas.

Angka tiga belas tidaklah sial,
Itu kata para penghayal,
Tak beriman akan terjual,
Oleh penghayal yang suka nakal.

Bagi si muslim iman bertambah,
Bagaikan sumur sering ditimba,
Airnya jernih tiada berubah,
Itulah gambaran iman si hamba.

Syair Ramadhan-14.
Hari ke empat belas bulan purnama,
Puasa masuk di masa rahmah,
Bangunkan keluarga sahur bersama,
Agar rahmat dapat serumah.

Masuk separuh bulan ramadhan,
Tangis berdoa tersedu sedan,
Berharap nasib untung dibadan,
Pahala ramadhan akan sepadan.

Termashur perkataan para ahli,
Puasa adalah prilaku sang wali,
Dengan sempurna ia diawali
Agar akherat bisa terbeli.

Syair Ramadhan-15.
Hari ke lima belas ada ditengah,
Bagaikan buah sedang dibelah,
Separuh belum separuh sudah,
Mari berdoa agar dengan menadah.

Berharap umur bisa panjang,
Ditambah dosa beserta angan,
Tak tahu maut datang menerjang,
Tak bisa tunda tak bisa hadang.

Wahai diri yang banyak dosa,
Masih berharap dan panjang asa,
Rambut memutih tidak terasa,
Padahal badan hampir binasa.

Syair Ramadhan-16.
Hari ke enambelas didepan mata,
Datangnya bagai emas permata,
Perkara baik segeralah pinta,
Malaikat mencatat sebagai duta.

Panjatkan doa janganlah malu,
Tak perlu wakil pada penghulu,
Tadahkan tangan dimalam dalu,
Itulah laku sejak dahulu.

Panjatkan pinta baik apapun,
Agar keluarga selalu rukun,
Sanak saudara mohon dihimpun,
Segala mukmin diberi ampun.


Syair Ramadhan-17/Nuzulul quran (sudah kemaren)

Syair Ramadhan-18.
Usia bertambah tanpa terasa,
Beriring juga amal dan dosa,
Berharap bekal dari puasa,
Agar selamat ganjaran siksa.

Hari sudah yang ke delapan belas,
Moga puasa mulai berkelas,
Menahan diri membuang malas,
Supaya pahala menjadi jelas.

Jangan terbalik kita terdorong,
Menjelang lebaran semua diborong,
Apalah arti lambung dikosong,
Kalau diakhir hasilnya ompong.

Syair Ramadhan-18.
Jadikan lebaran yang sederhana,
Jangan bermewah bikin terpana,
Semua kue dihidang disana,
Untuk menebar bangga pesona.

Wahai Tuhan yang maha pengampun,
Ampuni kami yang suka menghimpun,
Makanan dan kue sudah ditampun,
Banyaknya? minta ampun!.

Ingatlah pada fakir dan miskin,
Puasa mereka membekas yakin,
Merekalah memang golongan siddiqin,
Yang masuk sorga haqqul yaqin.

Syair Ramadhan-19.
Inilah hari ke sembilan belas,
Puasa akan banyak berbalas,
Mengapa banyak orang berkelas,
Pergi belanja sampai kebablas.

Lihatlah orang hidup dikota,
Belanja banyak sulit ditata,
Padahal di mesjid sudah dikata,
Sederhana bukan tuk kata.

Kasihan engkau hai anak yatim,
Tak ada tempat untuk bermukim,
Dibulan puasa setiap musim,
Engkau tersisih engkau terzhalim.

Syair Ramadhan-20.
Ramadhan sudah ke duapuluh,
Ampunan datang bagaikan suluh,
Tuk jadikan dosa meluluh,
Agar sekarat tidak berpeluh.

Ketika maut datang menjemput,
Bagaikan akar ditarik rumput,
Anak dan harta tiada tersebut,
Sibuk sendiri hadapi maut.

Untuk bertobat jangan terlambat,
Mumpung diri masihlah sehat.
Mari lakukan sebelum telat,
Sebelum dijemput oleh malaikat.

Syair Ramadhan-21.
Malam ini ramadhan selikur,
Janganlah kita tidur mendengkur,
Jalani ibadah dengan terukur,
Sebagai tanda hamba bersyukur.

Malam ini lailatul qodar,
Mari berjaga tetap tersadar,
Berharap menang seperti badar,
Agar iman tiada memudar.

Wahai Tuhanku tujuan hidup,
Ampuni iman sering meredup,
Curahan hidayah kan hamba hirup,
Agar akherat hamba terlingkup.

Syair Ramadhan-22.
Malam dua-dua adalah genap,
Mari mengaji quran disingkap,
Bacalah makna baiki sikap,
Lanjutkan nanti dengan I’tikap.

Wahai tuhanku yang maha pengasih,
Janganlah hamba jadi tersisih,
Walaupun kadang maksiat masih,
Hamba berharap kelak kan bersih.

Ramadhan ini kubuat syair,
Tanpa dikonsep terus mengalir,
Semoga bisa bernilai zikir,
Walaupun hasil dari berfikir.

Syair Ramadhan-23.
Malam duapuluh tiga telah datang,
Semua yang beriman kini di undang,
Membaca zikir quran kumandang,
Lailatul qodar mari dihadang.

Lailatul qodar ada cirinya,
Bumipun senyap tiada anginnya,
Hewan tumbuhan bisu suaranya,
Seakan berhenti semua geraknya.

Sungguh beruntung mereka yang dapat,
Menjadi karunia berlipat-lipat,
Kepada Allah mereka dekat,
Itulah buah amal yang berkat.

Syair Ramadhan-24.
Hari puasa ke duapuluh empat,
Pohon kelapa mulai dipanjat,
daun diambil bikin ketupat,
lidi diambil sapu diikat.

Diambil pula kelapa tua,
Dibikin kue bermacam jua,
Untuk lebaran bersuka ria,
Setelah berakhir puasa kita.

Entah mengapa jadi terbalik,
diakhir puasa bukan terdidik,
menahan nafsu melatih baik,
tapi seperti dendam menukik.

Syair Ramadhan-25.
Duapuluh lima angka terhitung,
Akankah kita akan beruntung,
Harapan indah selalu digantung,
Berharap amal sebesar gunung.
Lihatlah mereka dibawah kolong,
Tiada tempat tuk minta tolong,
Baju celana sudahlah bolong,
Ratap dan tangis sering melolong.

Adakah surga bagi saudara,
Yang tega lihat orang sengsara,
Atapun mereka setumpah darah,
Kurang beruntung tak terpelihara?

Syair Ramadhan-26.
Hari ramadhan duapuluh enam,
Masih sedikit amal ditanam,
Baca quranpun timbul terbenam,
Ibadah sunahpun bertambal sulam.

Malunya hamba wahai Tuhanku,
Sia-siakan yatim piatu,
Padahal mereka amal yang tentu,
Di sorga berbalas rumah sepintu.

Ulurkan tangan pada si fakir,
Berilah sedikit jauhi kikir,
Walaupun hanya kurma sebutir,
Disisi Allah amal terukir.

Syair Ramadhan-27.
Inilah malam duapuluh tujuh,
Mari saudara kita tawajjuh,
Terakhir lailatul qodar berlabuh,
Singgahi hamba yang sungguh-sungguh.

Bergadang malam sampai ke sahur,
Dibaca terus zikir yang ma,tsur,
Agar bangkit dan tidak hancur,
Cahaya iman sepanjang umur.

Wahai Ilahi yang maha Suci,
Janganlah hamba dipandang benci,
Janganlah pula hamba dicaci,
Berikan hamba pegangan kunci.

Syair Ramadhan-28.
Malam ke 28 sudah terukir,
Pertanda ramadhan hamper berakhir,
Sudahkah engkau hamba yang fakir,
Bersungguh-sungguh dalam berzikir.

Ramadhan itu bulan mulia,
Sangat gembira para aulia,
Bersihkan diri seperti semula,
Modal menghadap pada si Dia.

Wahai diri berlumur dosa,
Masihkan cemas engkau merasa,
Akhir dunia pasti dirasa,
Akherat kelak mendapat siksa.

Syair Ramadhan-29.
Duapuluh sembilan ganjil penutup,
Bulan dilangit pastilah redup,
Awal dan akhir akan dilingkup,
Bagaikan manusia di akhir hidup.

Satu bulan terhitung sudah,
Bukan perjuangan terbilang mudah,
Para pemenang menepuk dada,
Orang yang kalah kembali tergoda.

Wahai diri yang akan fana,
Telah tertulis amal dengan pena,
Ibadah sungguh sudahlah pernah,
Berilah hamba balas nirwana.

Syair Ramadhan-30. (Penutup)
Ramadhan ini sudah sebulan,
Lewatlah masa habis tertelan,
Bagai musafir di akhir jalan,
Akhirnya sukses atau kegagalan.

Inilah akhir bulan pencuci,
Habislah marah hilanglah benci,
Jangan kotori dengan mencaci,
Agar tak marah Allah yang suci.

Syairku ini tamatlah sudah,
Dari sang hamba penuh tiada
Hamba berdoa sambil tengadah,
Hanya inilah hamba bermadah.

Inderalaya, 29 Agustus 2010,
19 Ramadhan 1431 H.
Hamba Allah yang dhaif.

0 komentar:

Poskan Komentar

Tags

Label

Blog Archive

Archives