Minggu, 28 November 2010

SYAIR PAHLAWAN

Posted by SASTRA, ILMU dan HIKMAH 21.38, under | No comments



Oleh
Hamdi Akhsan.

PENGANTAR
Syair ini membahas tentang pahlawan di berbagai profesi,berbagai sudut pandang, dan berbagai sisi dari kepahlawanan itu sendiri. Bagi yang kurang berkenan saya mohon maaf!

I
Syair ditulis hamba yang fakir,
hasil renungan dalam berfikir,
dari sejarah yang telah diukir,
berhambur darah bertakir-takir.

Syair berkisah tentang pahlawan,
orang yang hebat juga melawan,
berjenis puan maupun tuan,
yang telah berpulang ke atas awan.

Pahlawan itu banyak jenisnya,
banyak pula bidang-bidangnya,
ada pula kepentingannya,
tergantung siapa menginginkannya.

II
Pahlawan perang tewas terbunuh,
gagah berani melawan musuh,
atau dibuang ketempat jauh,
atau dikurung penjara kukuh.

Namanya harum semerbak wangi,
ditulis orang disana-sini,
tuk nama jalan juga mumpuni,
didinding fotonya berwarna-warni.

Sibuklah anak hafal namanya,
demikian juga daerah asalnya,
siapa pula yang diperanginya,
serta ditulis keberaniannya.

III
Ada pula pahlawan kecil,
seperti guru daerah terpencil,
tinggal ditempat jauh terkucil,
ditambah pula gaji yang kecil.

Jasanya tidak terlihat mata,
tak banyak pula orang berkata,
tiada pula jadi berita,
sampai ia pun menutup mata.

Inilah jenis pahlawan guru,
patutu digugu patut ditiru,
dizaman lama atau baharu,
bila teringat bikin terharu.

IV
Ada pula pahlawan tani,
ditengah sawah berhari-hari,
keringat mengalir berkati-kati,
untuk tanam dan pelihara padi.

Mereka pahlawan bagi keluarga,
rezeki yang halal selalu dijaga,
sehat dan lapang jiwa dan raga,
setiap saat hatinya lega.

Mereka tak perlu berpura-pura,
bersih dan baik membangun citra,
padahal bobroknya tiada terkira,
negeri diurus semakin parah.

V
Dikenal pula pahlawan lingkungan,
berjuang atasi banyak kerusakan,
baik di laut atau daratan,
di tempat ramai atau di hutan.

Kerja mereka dapat cemooh,
bahkan dicerca tidak senonoh,
orangpun kadang menganggap bodoh,
dan enggan pula orang mencontoh.

Hutan yang gundul mereka hijaukan,
air yang keruh mereka jernihkan,
pantai yang tandus mereka hijaukan,
bukit yang longsor mereka baikkan.

VI
Ada juga pahlawan cinta,
sudah terkenal dalam cerita,
siap selalu bila dipinta,
walaupun kadang membabi buta.

Pahlawan cinta banyak jenisnya,
ada yang tulus perbuatannya,
ada pula yang lihat upahnya,
dan ada pula yang banyak maunya.

Pahlawan cinta yang paling mulia,
menjaga kekasih dengan tulusnya,
tiada berfikir apa upahnya,
yang penting bahagia yang dicintainya.

VII
Jangan jadi pahlawan kesiangan,
datang terlambat setelah peperangan,
menepuk dada penentu kemenangan,
padahal yang dikejar cuma kesenangan.

Jenis yang ini sekarang banyak,
berteriak-teriak ditengah khalayak,
kerja siapapun tiada yang layak,
dirinya sendiri sempurna kayak.

Ketika sudah diberi jatah,
dari miskin jadi berharta,
dari lantang jadi kehilangan kata,
terhadap keboborokan matanya buta.

VIII
Dikampung juga ada pahlawan,
disegani oleh kawan dan lawan,
dirindukan gadis cantik rupawan,
ingin diambil mantu oleh hartawan.

Pahlawan kampung jenisnya dua,
ada yang santun juga jumawa,
yang santun akan penuh wibawa,
yang jumawa disebut preman namanya.

Kalaulah preman jadi pahlawan,
setiap keributan ada di depan,
tak pernah mundur kalau tawuran
suaranya lantang dalam serangan.

IX
Ada pula yang ngaku pahlawan,
membawa bukti dan bahan-bahan,
biar termasuk golongan veteran,
dapat pensiun cukup lumayan.

Pahlawan itu ada dihati,
yang paling tahu pasti Ilahi,
siapa yang memang pahlawan sejati,
dan siapa pula yang mensiasati.

Kalau pahlawan hanyalah pangkat,
tergantung pada siapa berhajat,
siapa yang kuasa bisa mengangkat,
siapa yang ingin dberi derajat.

X
Berbeda dengan pahlawan agama,
diatas kuburnya tiada nama,
ribuan tahun harum kuburnya,
jasadnya tiada dimakan tanah.

Mereka disebut para mujahid,
tiada mengeluh luka dan sakit,
kelak ketika hari berbangkit,
dibarisan mereka hanya sedikit.

Mereka berjuang karena Allah,
korban harta dan keluarga rela,
ketika bangkit ditiup sangkakala,
mereka diganjar jannatul ma'wa.

XI
Besok adalah hari pahlawan,
daku berseru padamu kawan,
apakah kita sudah tertawan,
indahnya dunia sangat menawan.

Perang terbesar didalam diri,
halal dan haram yang disadari,
peluang syaitan jangan diberi,
dengarkan malaikat kitapun mari.

Seharum apa jasa manusia,
disisi Allah balasan jasa,
apakah ia orang biasa,
atau dianggap orang berjasa.

XII
PENUTUP
Marilah kita tadahkan tangan,
doakan mereka di kedalaman,
kubur dan tanah menjadi taman,
supaya mereka dapat ampunan.

Yang baik mari diteladani,
yang buruk mari kita jauhi,
mari bersatu membangun negeri,
supaya kita kan disegani.

Terhadap mereka yang belum sadar,
kepada Allah kita bersandar,
Kembalikan mereka jalan yang benar,
hidup yang baru bagaikan fajar.

Inderalaya, 09 November 2010
Bukan Pahlawan

0 komentar:

Poskan Komentar

Tags

Label

Blog Archive

Archives