Posted by : MARCHSADA Thursday, October 28, 2010



Oleh
Hamdi Akhsan.
I
Anaku sayang,
Kutulis  syair khusus  untukmu,
dihari istimewa ulang tahunmu,
enambelas tahun sudah usiamu,
menjelang dewasa  kini  dirimu.

Sedangkan ayah mulai menua,
tidak  seperti  kala perkasa,
tubuh yang rapuh mulai terasa,
kerja yang berat sudah tak bisa.

Bagiku hari menjelang petang,
tak lama lagi maut akan menjelang,
bila malaikat mauttelah datang,
tak bisa tunda tak bisa tantang.

II
engkau adalah putri sulungku,
belahan jiwa cahaya mataku,
selalu mendengar kata-kataku,
walaupun sangat manja padaku.

anakku sayang anakku manja,
kini dirimu telah remaja,
mekar bagaikan bunga seroja,
harum mewangi banyak dipuja.

Tapi semuanya fatamorgana,
waspada engkau itu karena,
jangan terbuai jangan terlena,
menyesal engkau diujung sana.

III
anakku...
Ingatlah dulu  pertama pergi,
berpisah kita petang dan pagi,
disiplin  waktu bagus kau bagi,
hingga dirimu tidak merugi.

Saat Tsanawiyah di pesantren,
hafalan yang banyak menjadi tren,
yang jadi hafizah dipandang keren,
walaupun pondokmu sudah moderen.

Tahajjud juga jadi amalmu,
baca alquran jadi sukamu,
zikir yang ma'tsur kerja rutinmu,
belajar tekun selalu dirimu.

III
anakku sayang.....
Kini dirimu sudah SMA
seperti dulu masih di asrama,
belajar selalu bersama-sama,
dijaga bagai tinggal dirumah.

Tapi ayahanda ini bertanya,
apakah ibadahmu tetaplah sama,
seperti kala masa sebelumnya,
cahaya wajahmu memancar rahmah.

kalau semua telah telah berkurang,
sungguh merugi engkau sekarang,
seperti disampai oleh seseorang,
jantungku berdebar datang menyerang.

IV
Ayah rindukan putri yang dulu,
rajin berdoa dimalam dalu,
baca alquran rutin selalu,
doakan ayah umi tak pernah lalu.

Dahulu engkau rajin membaca,
walaupun sambil duduk di beca,
tak sibuk berhias didepan kaca,
atau bergosip sambil mencerca.

Kini engkau sudah berubah,
banyak bicara dan kurang tabah,
kadangpun sempat juga bergibah,(bergibah=bergosip)
walaupun tahu itu musibah.

V
Anakku...
sebentar lagi engkau dewasa,
selalu belajar agar kau bisa,
janganlah pernah berputus asa,
mintalah semua pada Yang Kuasa.

semakin tambah bilangan umur,
tambah ibadah tambah bersyukur,
supaya ayah jadi terhibur,
juga selamat didalam kubur.

tak perlu takut tak berprestasi,
dunia ini hanya fantasi,
sebentar juga engkau permisi,
akherat jua tempat diisi.

VI
Anakku...
Ayah tak takut bila tiada,
taqdir hidupmu ditulis sudah,
rezeki dan bala pastilah ada,
walau sekarang masih ditunda.

Padamu ayah ingin berpesan,
jaga auratmu jangan tunjukkan,
jagalah ia sebagai intan,
supaya malaikat tetap terkesan.

Bergaul juga harus kau jaga,
sadarlah syaitan jadi ketiga,
jadikan malaikat sebagai penjaga,
supaya dirimu diberi surga.

V
anakku sayang permata ayah,
tak apa kami bekerja payah,
asalkan dirimu sungguh seraya,
menjadi anak selalu sholehah.

anakku sayang sibiran tulang,
kelak ayahanda akan berpulang,
berpisah pasti daging dan tulang,
jangan jadikan ayahanda malang.

Jauhi sifat yang hura-hura,
cukuplah amal bikin gembira,
dibakar sungguh di atas bara,
mereka yang umbar nafsu amarah.

VI
Syairku lahir karena takut,
dimahkamah-Nya kelak dituntut,
sebagai ayah yang kurang patut,
didik dirimu jadi penurut.

engkau adalah anak gadisku,
tempat bermanja masa tuaku,
tempat meminta potongkan kuku,
kala gemetar sudah tanganku.

Masamu masih teramat panjang,
jalan didepan luas membentang,
dunia akan selalu menantang,
namun akherat wajib dipandang.

VII
Anakku sayang...
Lima tahun berlalu sudah,
berpisah kita tidak serumah,
tapi dirimu selalu didada,
tak ayah lupa sedetik jua.

belajar engkau hidup prihatin,
jangan terlalu sering ke kantin,
puasa sunnat lakukan rutin,
supaya tajam didalam batin.

Dahulu engkau banyak menangis,
puasa selalu senin dan kamis,
sederhana tidak suka kelimis,
selalu memakai pakaian gamis.

VIII
Anakku...
Ayah bukanlah sosok malaikat,
dosa dan salah kadangpun lekat,
pada Ilahi kurang mendekat,
namun padamu tetap nasehat.

Sebelum ayah dipanggil pulang,
ketika maut datang menjelang,
berpisah daging berlapis tulang,
wasiat ini akan ku ulang.

Ayah meminta setulus hati,
jadilah engkau muslimah sejati,
jalani hidup berhati-hati,
quran dan sunnah selalu kau titi.

IX
Anakku...
Terhadap pria berhati-hati,
kata dan janji tiada pasti,
kalau terlanjur jatuh hati,
kelak kan sesal setengah mati.

Usiamu masih masih sangat muda,
jalan terbentang selalu ada,
menyesal dahulu baiklah sudah,
sebelum menangis didalam dada.

Jagalah diri dan kehormatan,
pria yang baik bersifat jantan,
tak kan mengajakmu ke hutan-hutan,
ataupun sembunyi dari penglihatan.

X
Pria beriman datang ke rumah,
tegur ayah dan umi ramah,
pintar sekolah bisa ceramah,
kata dan perbuatannya sama.

Kalaulah ia pria yang buruk,
mengajak engkau menyendiri duduk,
matanya licik terkantuk-kantuk,
waspadalah...engkau bisa terantuk.

Pria yang baik kan melindungi,
terjauh dari mempecundangi,
akhlak agama harum mewangi,
bersinar bagai indah pelangi.

XI
Anakku...
Kalau kau rindu pria yang sholeh,
prilaku mubazir janganlah boleh,
maksiat hati jangan ditoleh,
terhadap dunia ia semeleh (semeleh=bersyukur dengan yang ada)

Anakku sayang permata ayah,
belajar keras membuat payah,
tapi dirimu harus percaya,
ilmu didapat akherat jaya.

Kalaulah ilmu engkau dapati,
tetaplah rendah bawaan hati,
seperti ilmu bangsanya padi,
semakin runduk makin berisi.

XII
Anakku sayang...
Di tanah suci ayah berdoa,
moga dirimu didalam rahmah,
diberi Allah hidup karomah,
menjadi penyebar ilmu agama.

Kalaulah ayah pergi dahulu,
doakan ayah di malam dalu,
diampuni dosa ayah yang lalu,
diganjar Syurga bahagia selalu.

Sayangi umi yang mulai rapuh,
terhadap umi harap kau patuh,
agar rahmat-Nya kelak kan jatuh,
dirimu diridhoi secara utuh.

XIII
Ketika kelak kau bersuami,
ayah tiada di dunia lagi,
dengarlah selalu sabda bestari,
Rasul tercinta yang dirahmati.

Surgamu ada di ridho suami,
pandai-pandailah merawat diri,
segala pemberian engkau syukuri,
segala yang buruk engkau tutupi.

semua suami sifatnya manja,
senang sekali kalau dipuja,
tak cukup hanya sekali saja,
selalu berikan tuk prestasi kerja.

XIV
Anakku...
Engkau adalah anak tertua,
jagalah sikap agar wibawa,
agar adikmu kelak terbawa,
terjauh dari sifat jumawa.

Sungguh ingin ayah berpesan,
tapi usiamu masih belasan,
takut ayah engkau tak kerasan,
dengan bahasa banyak kiasan.

Pesan ayah sampai disini,
sampai kapanpun kau pedomani,
dari kau baca dihari ini,
sampai kelak di kubur sunyi.

PENUTUP
XV
Anakku...
Syairku ini berakhir sudah,
kepada Allah ayah tengadah,
lindungi selalu anakku khalidah,
sampai dirinya kelak tiada.

Kepada Allah kumohon ampun,
kalaulah salah dalam menuntun,
kalau tak benar dalam menghimpun,
atau tak benar kata terlantun.

Kasih padamu tiada bertepi,
kubawa serta kemana pergi,
jadilah anakku muslimah sejati,
sampai kelak datangnya mati.


Inderalaya, 23 Oktober 2010
Ayah


Hamdi Akhsan.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

Welcome to My Blog

Popular Post

- Copyright © SASTRA - ILMU - HIKMAH -machsada-